SKK Migas Optimalkan Teknologi untuk Efisiensi Biaya

Di SKK Migas, dokumen arsip sudah diubah dalam bentuk digital sejak dua tahun lalu.
Anggita Rezki Amelia
Oleh Anggita Rezki Amelia
11 September 2017, 18:58
SKK Migas
Katadata

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) berupaya mengoptimalkan penggunaan teknologi. Dengan begitu bisa mengefisiensikan waktu dan biaya.

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengatakan mengatakan tantangan dalam penerapan teknologi tidak hanya relevan bagi organisasi yang berorientasi profit. Namun juga berlaku bagi SKK Migas dan atau industri hulu migas pada umumnya.

(Baca: Kontraktor Berbiaya Produksi Terbesar: KEI, PHE ONWJ, Medco Natuna

SKK Migas juga selalu melihat sejauh mana industri hulu berubah dan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi untuk mendapatkan data terkait temuan-temuan ladang. “Teknologi juga digunakan untuk meningkatkan efisiensi waktu dan biaya, yang pada akhirnya akan mempengaruhi seberapa besar penerimaan bagi negara,” katanya saat membuka Indonesia HR Summit 2017 di Yogyakarta, Senin (11/9).

Sebagai contoh, di SKK Migas, dokumen arsip sudah diubah dalam bentuk digital sejak dua tahun lalu. Tujuannya untuk mengefektifkan pengelolaan dan pencarian. Selain itu juga sebagai bagian dari pengelolaan pengetahuan berbasis teknologi.

Upaya tersebut juga membuahkan hasil. Salah satunya, permohonan evaluasi dan keputusan dapat ditindaklanjuti lebih cepat. (Baca: Pengembangan Teknologi Pengurasan Sumur Migas Terhambat Harga Minyak)

Untuk itu, menurut Amien, efisiensi dan efektivitas di era digital merupakan suatu proses yang terus dipelajari dan dilakukan kajian. “Dengan memaksimalkan peran teknologi informasi diharapkan dapat mengoptimalkan kinerja, baik di SKK Migas maupun dalam hal kegiatan pengawasan dan pengendalian kepada Kontraktor KKS (Kontrak Kerja Sama)” kata dia.

Penggunaan teknologi juga terbukti mengubah kondisi perusahaan minyak dan gas bumi (migas). Dalam sepuluh tahun sejak 2006, lembaga survei independen di Amerika Serikat, Statista mengungkapkan adanya pergeseran pada perusahaan yang paling bernilai secara publik.

Pada 2006 dari enam perusahaan kelas dunia terdapat tiga perusahaan migas besar, yakni ExxonMobil pada peringkat 1, serta BP dan Royal Dutch Shell di peringkat 5 dan 6. Sementara itu, General Electric, Microsoft dan Citigroupberada di peringkat 2 hingga 4.

(Baca: Biaya Produksi 48 Kontraktor Migas Mahal, tapi Hasilnya Sedikit)

Komposisi itu berubah pada tahun 2016. Peringkat 1 sampai 4 dikuasai perusahaan berbasis teknologi informasi yakni Apple, Google, Microsoft, dan Amazon. Facebook berada di urutan keenam. Satu-satunya perusahaan yang tidak berbasiskan teknologi informasi adalah ExxonMobil yang peringkatnya pun turun signifikan menjadi peringkat 5.“Perubahan peringkat tersebut menunjukkan betapa besarnya kekuataan ekonomi digital dalam beberapa tahun ke depan,” kata Amien.

Video Pilihan

Artikel Terkait