Azipac Butuh Waktu Kaji Keuntungan Blok Oti Pakai Kontrak Gross Split

Mereka meminta perpanjangan waktu hingga 21 hari sejak surat pemberitahuan dikirimkan ke Direktorat Jenderal Migas.
Anggita Rezki Amelia
Oleh Anggita Rezki Amelia
20 Juni 2017, 15:21
Rig Minyak
Katadata

Pemenang lelang blok minyak dan gas bumi (migas) 2016, Azipac Limited meminta tambahan waktu kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelum menandatangani kontrak. Alasannya, perusahaan ini harus terlebih dulu mengkaji skema gross split sesuai dengan keinginan pemerintah.

Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Kementerian ESDM Tunggal mengatakan awalnya pemerintah meminta waktu 14 hari kepada unit usaha Azimuth Group itu untuk mengkaji skema gross split. Namun, mereka meminta perpanjangan waktu hingga 21 hari sejak surat pemberitahuan dikirimkan ke Direktorat Jenderal Migas.

(Baca: Pemerintah Ingin Pemenang Lelang Blok Oti Pakai Skema Gross Split)

Tungal mengaku tak ingat tanggal surat tersebut. Yang jelas, pemerintah mengumumkan pemenang lelang itu sekitar akhir Mei dan awal Juni. "Azipac masih minta perpanjangan waktu melakukan evaluasi keekonomian," kata dia kepada Katadata, Selasa (20/6).

Perpanjangan ini diminta untuk menghitung keekonomian Blok Oti dengan skema gross split. Apalagi pemerintah mendorong Azipac menggunakan skema kontrak baru itu, meskipun sebenarnya bisa memilih antara kontrak bagi hasil konvensional atau gross split dalam mengelola blok tersebut.

Azipac merupakan pemenang satu-satunya dalam lelang 14 blok migas yang dilakukan pemerintah tahun lalu. Walaupun baru menang lelang tahun ini, mereka sebenarnya pernah mengincar Blok Oti saat lelang wilayah kerja migas tahun 2015.

(Baca: Lelang Blok Migas Tak Laku Bukan Gara-Gara Harga Minyak Rendah)

Sayangnya, keinginan itu kandas karena penawaran yang diajukan masih di bawah syarat minimum pemerintah. Pemerintah saat itu menetapkan bagi hasil di Blok Oti  untuk minyak sebesar 65 persen pemerintah dan 35 persen untuk kontraktor. Adapun, untuk gas pemerintah sebesar 60 persen dan kontraktor 40 persen. 

Persyaratan komitmen pasti pada saat itu di Blok Oti berupa G&G atau (Geological & Gephysical) dan pengeboran satu sumur eksplorasi. Pemenang lelang waktu itu juga harus memberikan bonus tandatangan minimal US$ 1 juta. (Baca: Kontrak Tiga Blok Migas Nonkonvensional Berubah Pakai Gross Split)

Kini, pemerintah hanya mensyaratkan bonus tanda tangan sebesar US$ 500 ribu. Tunggal pernah mengatakan Azipac mengajukan tawaran lebih tinggi dari syarat pemerintah saat itu, sehingga terpilih menjadi pemenang. "Dasar pemenang ada di SOP lelang dan hasil evaluasi tim," kata dia. 

Video Pilihan

Artikel Terkait