Penurunan Harga Minyak Hambat Pengembangan Migas Non-Konvensional

Pemerintah siap memberikan insentif bagi KKKS yang serius ingin mengembangkan CBM dan shale gas
Image title
Oleh
8 Desember 2014, 16:40
ESDM KATADATA | Arief Kamaludin
ESDM KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut penurunan harga minyak saat ini dapat menghambat pengembangan proyek minyak dan gas bumi (migas) non-konvensional, seperti gas metana batu bara (coal bed methane/CBM) dan shale gas.

Pelaksana Tugas Dirjen Migas Kementerian ESDM Naryanto Wagimin mengatakan saat ini sudah ada 54 proyek kontraktor kontrak kerjasama (KKKS) CBM. Namun hanya sedikit yang masih dikembangkan oleh KKKS, sedangkan sisanya ‘mati suri’.

Menurut dia, jika penurunan harga minyak dunia berkelanjutan, bisa dipastikan akan menimbulkan masalah baru dalam pengembangan migas non-konvensional. Investor akan berpikir ulang menanamkan uangnya di bisnis ini. Karena perhitungan ekonominya tidak memungkinkan modal investor akan kembali, dengan harga minyak yang rendah. (Baca: "Perang" AS-Arab Saudi Bikin Harga Minyak Anjlok)

Agar pengembangan migas nonkonvensional bergairah lagi, Pemerintah siap memberikan insentif bagi KKKS yang serius ingin mengembangkan CBM dan shale gas. Salah satunya dengan mengubah kontrak yang dinilai tidak menarik bagi investor. 

Advertisement

“Yang tahu persis (hambatannya) kan pelakunya. Kalau dia (investor) ingin ‘A”, ya kami ikuti,” kata Naryanto, dalam keterangannya, Senin (8/112).

Naryanto mengakui masalah lain yang menghambat proyek migas non-konvensional selama ini adalah masalah perizinan. Saat ini pemeritah berjanji akan mempermudah dan mempercepat proses perizinan, melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu atau one stop service.

Data Kementerian ESDM menyebut potensi migas non-konvensional sebenarnya lebih besar dari yang konvensional. Potensi shale gas Indonesia diperkirakan mencapai 574 triliun kaki kubik (TCF), lebih besar jika dibandingkan CBM yang mencapai 453,3 TCF dan gas konvensional yang hanya sebesar 153 TCF.

Shale gas adalah gas yang diperoleh dari serpihan batuan shale atau tempat terbentuknya gas bumi. Proses yang diperlukan untuk mengubah batuan shale menjadi gas membutuhkan waktu sekitar lima tahun.

Sementara CBM merupakan CBM adalah gas alam dengan dominan gas metana dan disertai sedikit hidrokarbon lainnya dan gas non-hidrokarbon dalam batubara hasil dari beberapa proses kimia dan fisika. Puncak produksi CBM bervariasi antara 2 sampai 7 tahun. Sedangkan periode penurunan produksi (decline) lebih lambat dari gas alam konvensional. 

Reporter: Safrezi Fitra
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait