Pemerintah Akan Batasi Produksi Timah

Selama ini Indonesia memasok sekitar 70 persen sampai 80 persen kebutuhan timah dunia
Image title
Oleh
15 Oktober 2014, 11:06
ESDM
KATADATA/Arief Kamaludin
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Pemerintah berencana mengatur tata kelola timah di dalam negeri. Pengaturan ini termasuk membatasi produksi timah Indonesia.

Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM R. Sukhyar mengatakan, pembatasan produksi timah bertujuan menjaga agar harga komoditas itu tidak anjlok. Selama ini Indonesia memasok sekitar 70 persen sampai 80 persen kebutuhan timah dunia.

?Kalau dikurangi setengahnya itu, kan bisa berdampak besar (untuk pengendalian harga)," ujarnya di Kantornya, Jakarta, Selasa (14/10).

Dia mengatakan, selama ini tata kelola timah tidak terkendali lantaran penerbitan izin produksi dan eksportir terdaftar (ET) dikeluarkan oleh Gubernur. Nantinya dalam tata kelola yang baru, pemerintah provinsi mengajukan ET dan kemudian disahkan oleh pemerintah pusat. Dengan begitu, pemerintah pusat dapat mengetahui secara persis jumlah dan wilayah produksi timah.

Advertisement

Dalam kajian Kementerian ESD, pembatasan produksi akan dilakukan per provinsi. Misalnya, Provinsi Bangka belitung yang akan dikurangi hingga 50 persen menjadi sekitar 30 ribu-40 ribu ton per tahun. Adapun target produksi di provinsi itu pada tahun ini mencapai sekitar 90 ribu ton.

Menurut Sukhyar, jika jumlah produksi besar tetapi harganya menurun tidak akan menguntungkan Indonesia. Alhasil, lebih baik jika produksi dibatasi tetapi harga jualnya tinggi. Selain itu, pembatasan produksi akan mengurangi dampak terhadap kerusakan lingkungan.

Nantinya, tata kelola timah ini akan diterbitkan melalui Peraturan Menteri ESDM. Adapun sebelum diberlakukan, Kementerian ESDM akan bertemu dengan kepala daerah dan asosiasi untuk menentukan batasan produksi timah yang dianggap tepat.

"Jadi ini targetnya 2015, dengan rekomendasi ET dari Dirjen Minerba dan peraturan tata niaga dari Kementerian Perdagangan. Jadi ada dua Permen (Peraturan Menteri),? tuturnya.

Namun, Sukhyar belum mengitung detail sasaran harga yang akan dicapai, dengan batasan produksi tiap tahunnya. Namun, kata dia, harga timah Indonesia pernah mencapai harga US$ 25.000 per ton. Tingginya harga tersebut karena produksi timah dalam negeri yang relatif kecil.

Sukhyar optimis aturan ini bisa dijalankan, pasalnya dalam Undang Undang Mineral dan Batubara (Minerba) No 4 tahun 2009 dijelaskan bahwa baik mineral maupun batubara harus ada pembatasan produksi.

Reporter: Rikawati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait