Industri Manufaktur Hadapi Masalah

Boom komoditas mineral dan pertanian yang selama ini menjadi penyokong ekspor sudah berakhir
Image title
Oleh
14 Oktober 2014, 10:51
Toyota
Donang Wahyu|KATADATA
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ? Kinerja industri manufaktur Indonesia menghadapi sejumlah masalah. Pada 2000, ekspor dari sektor ini tercatat menyumbang 56 persen dari total ekspor, tapi pada 2013 kontribusinya hanya 37 persen.

Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Haryo Aswicahyono mengatakan, sektor industri ini membutuhkan revitalisasi guna meningkatkan kinerja ekspor Indonesia. Padahal, boom komoditas mineral dan pertanian yang selama ini menjadi penyokong ekspor sudah berakhir.

?Tingginya ketergantungan pada tingginya permintaan produk komoditas menunjukkan kinerja ekspor Indonesia bukan didorong oleh meningkatnya daya saing,? kata dia di Jakarta.

Menurutnya, ada beberapa permasalahan yang melanda industri manufaktur Indonesia saat ini. Pertama, kurs rupiah yang menguat berdasarkan nilai tukar riil efektif (real effective exchange rate/ REER) seiring dengan meningkatkan permintaan produk komoditas. Penguatan rupiah tersebut menyebabkan pelemahan daya saing.

Advertisement

Kedua, upah buruh meningkat tapi tidak diiringi pertumbuhan produktivitas. Bahkan dibandingkan negara tetangga, ongkos tenaga kerja Indonesia jauh lebih mahal. ?Sejak 2011, unit labor cost (ULC) Indonesia di atas rata-rata Malaysia dan Filipina,? tutur Haryo.

Ketiga, memburuknya produktivitas Indonesia dari yang tertinggi di kawasan pada 1996, menjadi salah satu yang terendah sejak 2009. Keempat, Indonesia juga tertinggal dalam jaringan produksi global, terutama pada produk elektronik dan garmen.

Kelima, iklim investasi yang buruk serta masih tingginya tingkat korupsi. Keenam, kinerja logistik yang lemah akibat minimnya infrastruktur. Ketujuh, sumber daya manusia yang lemah.  

Sementara itu, pelaku usaha di sektor industri manufaktur mengharapkan pemerintahan Joko Widodo menggencarkan pembangunan infrastruktur. Persoalan ini penting untuk dibenahi ketimbang pemberian insentif.

Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia Made Dana Tangkas mengatakan, tanpa infrastruktur yang memadai industri akan sulit meningkatkan produktivitas. Apalagi untuk mendorong kinerja ekspor.

?Saat ini yang penting bukan insentif, tapi infrastruktur,? kata dia.

Pembenahan infrastruktur pun mesti diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, meningkatkan kapasitas industri lokal terutama di sektor komponen, serta penyediaan sumber energi. ?Setelah itu baru memperluas pasar ekspor,? kata dia.

Hendrik Sasmita, Chairman PT Panarub Industry, mengatakan proses produksi dan birokrasi yang cukup berat telah mengurangi minat investor maupun pembeli untuk memperoleh produk Indonesia. Apalagi, sistem pengupahan yang kerap menjadi permasalahan.

?Kami mau pindah, tapi kami juga sudah harus siapkan pesangon sekian besar untuk ribuat karyawan. Ini pilihan sulit,? ujarnya.

Reporter: Petrus Lelyemin
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait