SKK Migas Membantah Kritik dari JK

Saat ini industri migas lebih transparan
Image title
Oleh
10 September 2014, 17:53
skk migas
Arief Kamaludin|KATADATA
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) membantah kritikan Wakil Presiden terpilih Jusuf Kalla (JK), yang menyebut kinerja migas memburuk saat dipegang oleh lembaganya. SKK Migas merasa kinerja industri migas bahkan lebih transparan dari sebelumnya.

Beberapa hari lalu, Wakil Presiden terpilih Jusuf Kalla (JK) mengkritik bahwa SKK Migas tidak mampu membuat industri migas nasional membaik, malah sebaliknya. Menurut JK, saat industri migas dipegang oleh Badan Koordinator Kontraktor Asing (BKKA) di bawah PT Pertamina (Persero), produksi puncak minyak nasional pernah mencapai 1,6 juta barel per hari (bph). Padahal, BKKA hanya memiliki 100 orang pegawai. Sementara di bawah pengawasan SKK Migas, yang memiliki 3.000 orang pegawai, produksi minyak nasional malah menurun menjadi hanya 840.000 bph saat ini.

Menanggapi hal tersebut, Deputi Pengendalian Perencanaan SKK Migas Aussie B Gautama justru mempertanyakan apa yang mendasari JK menganggap bahwa kinerja BKKA lebih baik. Padahal di masa sebelum reformasi itu, tidak ada target kerja yang jelas antara Kontraktor Kerja Sama (KKKS) dengan pemerintah.

Menurutnya, saat masih dipegang Pertamina, perencanaan kerja (work and planning budgeting) dilakukan pada bulan April, dan bisa disetujui bulan Oktober. Padahal pengerjaannya sudah berjalan 10 bulan. Sementara cost recovery bisa langsung ditagihkan ke pemerintah, tanpa ada pemeriksaan ulang realisasinya.

Advertisement

?Hitungannya masih dalam satu tahun buku. Jadi cost recovery hanya bersifat pemutihan saja. Kalau seperti itu kan enak KKKS,? ujar Aussie, usai menghadiri seminar bertajuk 'Mewujudkan Kedaulatan Energi Nasional,' di Jakarta, Rabu (10/9)..

Setelah muncul BP Migas pada 2002, yang kemudian digantikan SKK Migas, Work Plan and Budgeting ditentukan setahun KKKS melakukan kegiatan operasionalnya.

Aussie juga mengakui bahwa Indonesia pernah mencapai puncak produksi minyak 1,6 juta bph pada saat booming minyak periode 1980-an. Dia menilai wajar jika saat ini produknya menurun, karena cadangan minyak menipis seiring waktu.

Dia juga menilai produksi energi hulu di Tanah Air membaik ketika ditangani SKK Migas. Memang lifting minyak terus menurun, tapi jika ditambah dengan gas bumi sebanyak 1.2 juta barel setara minyak per hari (boepd) jumlahnya mencapai 2 juta bph. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan booming minyak 1,6 juta bph. 

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Arsip
    News Alert

    Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

    Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
    Video Pilihan

    Artikel Terkait