Proyek Pembangunan 1.000 Menara Akan Dilanjutkan

Arus urbanisasi yang semakin tinggi membuat kebutuhan perumahan di perkotaan semakin besar
Image title
Oleh
28 Agustus 2014, 13:47
apartemen.jpg
KATADATA/
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ? Wakil presiden (wapres) terpilih Jusuf Kalla mengatakan pemerintahan yang baru akan kembali menjalankan proyek pembangunan 1.000 menara rumah susun (rusun).

?Begitu saya tinggalkan kantor (wapres) ditarik (kebijakannya). Saya balik lagi saya kasih lagi. Simple saja,? kata dia saat membuka seminar ?Efisiensi Ekonomi Nasional untuk Pembangunan Rumah Rakyat? di Jakarta, Kamis (28/8).

Pembangunan rumah susun, kata dia, sangat penting untuk daerah perkotaan. Sebab, dengan tingginya arus urbanisasi kebutuhan rumah tinggal akan semakin besar. Dia memperkirakan, pada 2020 sekitar 60 persen penduduk akan tinggal di daerah perkotaan. Hal ini membutuhkan kerja sama antara pemerintah dan swasta.

JK, panggilan akrab Jusuf Kalla, mengatakan pada masa jabatannya sebagai wapres pada 2004-2009 telah menginisiasi program tersebut. Akan tetapi program itu tidak berlanjut. ?Ke depan yang penting layak kecil harus dibangunkan perumahan layak. Kalau di perkotaan harus rumah susun. Pemerintah harus bangun rumah untuk rakyat kecil,? tuturnya.

Wapres terpilih ini meminta pengembang dapat membangun perumahan untuk rakyat kecil, terutama untuk kawasan perkotaan. Ini supaya masyarakat bisa lebih dekat dengan pekerjaannya sehingga biaya yang dikeluarkan lebih murah.  

?Jangan lebih suka bangun lapangan golf dibanding bangun perumahan rakyat kecil. Tragis. Saya kasih lagi tapi jangan ditunda-tunda lagi,? kata dia.

Direktur Utama Perum Perumnas Himawan Arief Sugito mengatakan, selama ini pengembang kesulitan untuk membangun perumahan rakyat. Ini lantaran lahan yang awalnya disediakan pemerintah seluas 2,6 hektare (ha) justru terus dikurangi menjadi 1,7 ha.

?Saat Bapak (JK) di pemerintahan, lahan dikasih 2,6 ha untuk perumnas. Begitu Bapak nggak ada (melepas jabatan) tanah itu dikembalikan lagi. Jadi kami nggak bisa bangun. Kami tetap berjuang, bahkan yang 1,7 ha sempat nggak boleh dibangun,? kata dia.

Program pembangunan 1.000 menara rusun tidak berjalan lantaran kurangnya minat pengembang untuk ikut dalam proyek tersebut. Hal ini disebabkan tidak jelasnya aturan, seperti batasan koefisien luas bangunan (KLB).  

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait