Pertamina Tunda Menaikkan Harga Elpiji Non Subsidi

Kami tidak akan menaikkan harga elpiji 12 kilogram sampai ada keputusan dari pemerintah
Image title
Oleh
15 Agustus 2014, 19:07
LPG Pertamina KATADATA | Donang Wahyu
LPG Pertamina KATADATA | Donang Wahyu
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ? Rencana PT Pertamina (Persero) menaikkan harga gas elpiji non subsidi hari ini harus tertunda. Alasan penundaan ini karena pemerintah belum menyetujui kenaikan harga tersebut.

Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina Hanung Budya mengatakan Pertamina mendapatkan surat dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 6 Agustus 2014. Dalam surat tersebut, Kementerian meminta Pertamina menunda kenaikan harga, hingga ada keputusan selanjutnya dari pemerintah.

Sementara untuk memutuskan hal tersebut, pemerintah terlebih dahulu melakukan rapat koordinasi bidang perekonomian. Setelah itu, hasilnya akan dilanjutkan kepada presiden.

"Jadi kami tidak akan menaikkan (harga elpiji 12 kilogram) sampai ada keputusan dari pemerintah," ujar Hanung, di kantornya, Jakarta, Jumat (15/8).

Padahal, sebenarnya keputusan menaikkan harga gas elpiji 12 kilogram sebenarnya merupakan kewenangan Pertamina. Mengingat elpiji 12 kilogram tidak mendapat subsidi dari pemerintah.

Menurut Hanung, Pertamina memutuskan untuk menaikkan harga elpiji 12 kilogram berdasarkan  persetujuan dan ketidakberatan pemerintah pada Januari 2014. Keputusan menaikkan harga pada 15 Agustus 2014 ini, juga sudah disampaikan kepada pemerintah sejak bulan lalu. Namun, ternyata pemerintah berubah pikiran dan meminta Pertamina untuk menunda kenaikan harga tersebut.

Dia juga belum bisa memastikan apakah nantinya akan ada perubahan besaran kenaikan narga yang sudah ditetapkan Pertamina. Seperti diketahui, Pertamina berencana menaikkan harga elpiji 12 kilogram, dengan besaran Rp 1.000-1.500 per kilogram.

?Tidak relevan kalau belum dapat izin dari pemerintah. Kalau sudah, baru kami hitung-hitungan," ujarnya.

Pertamina memutuskan menaikkan harga elpiji 12 kilogram, dengan alasan mengalami kerugian hingga Rp 6 triliun per tahun. Kerugian ini juga terjadi akibat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kian melemah.

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait