Vale Targetkan Renegosiasi Tuntas Tahun Ini

PT Vale Indonesia Tbk berharap renegosiasi kontrak karya bisa selesai sebelum pergantian pemerintahan Perseroan mengaku saat ini masih terus berdiskusi dengan pemerintah agar proses renegosiasi tersebut bisa segera tuntasPresiden Dir
Image title
Oleh
7 Mei 2014, 15:10
kementerian esdm
KATADATA
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? PT Vale Indonesia Tbk berharap renegosiasi kontrak karya bisa selesai sebelum pergantian pemerintahan. Perseroan mengaku saat ini masih terus berdiskusi dengan pemerintah agar proses renegosiasi tersebut bisa segera tuntas.

Presiden Direktur Vale Indonesia Nico Kanter mengatakan dari hasil pendiskusian selama ini, perseroan telah melihat adanya kemajuan beberapa poin yang dibicarakan dengan pemerintah. ?Kami berusaha secepatnya tanda tangan nota kesepahaman dan diikuti kontrak karya,? ujar Nico dalam acara ?Institutional Investor Day 2014?, Rabu (7/5).

Menurutnya, pemerintah sekarang juga sudah punya target untuk menyelesaikan proses renegosiasi tersebut. Namun, Nico enggan menceritakan sudah sejauh mana perkembangan diskusinya dan poin-poin apa saja yang masih dibicarakan.

?Saya tidak mau berkomentar poin mana saja yang belum selesai dari renegosiasi. Supaya jangan ada multitafsir. Saya yakin Bapak Dirjen (Direktur Jenderal Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral) akan sampaikan progres yang dicapai,? ujarnya.

Advertisement

Perseroan juga berharap dukungan pemerintah dalam merealisasikan pembangunan smelter, yang juga termasuk dalam salah satu poin renegosiasi. Saat ini perseroan memang sudah merencanakan pembangunan smelter, yang bekerjasama dengan perusahaan asal Jepang Sumitomo.

Pada dasarnya, pemerintah pun sangat mendorong pembangunan smelter tersebut. Makanya pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melarang ekspor mineral mentah.

Menurut Nico, kebijakan pelarangan ini juga menguntungkan bagi perseroan, karena dapat memicu kenaikan harga nikel. ?Di kisaran berapa (kenaikannya) tentu kami tidak bisa menjawab tapi kami berharap kebijakan ini akan konsisten utk dilakukan. Kami harap selanjutnya (perseroan) bisa menunjukan angka yang positif naik,? ujarnya.

Nico yakin pada kuartal dua hingga akhir tahun ini harga nikel akan mengalami tren kenaikan. Pada kuartal I-2014, harga rata-rata nikel turun 19,8 persen, dari US$ 13.673 per ton pada kuartal I-2013, menjadi US$ 10.972 per ton.

Melemahnya harga nikel tersebut membuat kinerja perseroan pun ikut melemah. Pada kuartal I tahun ini, perseroan mencatat penurunan penjualan sebesar 17,5 persen, menjadi US$ 213,11 juta.

Padahal volume penjualan perseroan pada periode tersebut mengalami kenaikan sebesar 6 persen menjadi 19.604 ton, dibandingkan volume penjualan kuartal I-2013 sebanyak 18.514 ton.

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Arsip
    News Alert

    Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

    Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
    Video Pilihan

    Artikel Terkait