Adaro Minta Kenaikan Produksi Batu Bara 7 Persen

PT Adaro Energy Tbk tahun ini menargetkan kenaikan produksi sebesar 713 persen menjadi 56 juta ton dari tahun lalu sebesar 5227 juta ton Untuk merealisasikan target tersebut perseroan sudah mengajukan Rencana Kerja dan Anggaran Belan
Image title
Oleh
8 Mei 2014, 15:40
adaro-energy.jpg
KATADATA/
KATADATA | Dok. KATADATA

KATADATA ? PT Adaro Energy Tbk tahun ini menargetkan kenaikan produksi sebesar 7,13 persen, menjadi 56 juta ton, dari tahun lalu sebesar 52,27 juta ton. Untuk merealisasikan target tersebut, perseroan sudah mengajukan Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) pada pemerintah.

Direktur Keuangan Adaro Energy David Tendian mengatakan RKAB tersebut sudah diajukan, tapi belum juga disetujui oleh pemerintah. ?Kami sedang dalam proses untuk diskusi dengan (Kementerian)  ESDM untuk mendapat persetujuan memproduksi 56 juta ton. Dari kemampuan produksi, kami ada kapasitas dan mampu untuk memproduksi jumlah tersebut,? ujarnya di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (8/5).

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun ini membatasi produksi batu bara nasional maksimal 397 juta ton. Dari  total target tersebut, sebanyak 95 juta ton untuk pemenuhan kebutuhan domestik dan sisanya untuk ekspor.

Dalam RKAB yang diajukan kepada pemerintah, perusahaan batubara atau Badan Usaha Pertambangan Batubara (BUPB) wajib memenuhi ketentuan Persentase Minimal Pemenuhan Batubara Dalam Negeri (PMPBDN) atau kuota Domestic Market Obligation (DMO) batubara.

Advertisement

Sekadar informasi, Keputusan Menteri ESDM No. 2901 K/30/MEM/2013 menyebutkan DMO sebesar 25,90 persen. BUPB diwajibkan untuk memenuhi persentase minimal penjualan batubara untuk kepentingan dalam negeri  sebesar 25,90 persen, dari perkiraan produksi batubara pada 2014 sebesar 397 juta ton.

DMO tersebut diwajibkan untuk 50 perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara, dan 34 perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) batubara.

Menurut David, Adaro akan tetap patuh pada peraturan pemerintah perihal ketentuan DMO yang diwajibkan pada perseroan. ?Kami adalah pemasok batu bara terbesar di Indonesia. Jadi kontribusi kami terhadap pembangkit listrik di Indonesia yang terbesar,? ujarnya.

Meski masih menunggu RKAB disetujui pemerintah, Adaro sudah berani menargetkan pendapatan sebelum pajak, bunga, penyusutan, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$ 750 juta sampai US$ 1 miliar.

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait