Margin Keuntungan Industri Semen Turun

Image title
Oleh
2 Mei 2014, 15:15
pasar-saham.jpg
KATADATA/
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Margin keuntungan emiten semen tergerus sepanjang kuartal I tahun ini. Hal ini terjadi akibat kenaikan harga bahan baku dan beban biaya produksi lainnya.  

Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan keuangan empat emiten semen menunjukan, kenaikan beban pokok penjualan lebih tinggi dari kenaikan penjualan. Dari segi penjualan, kenaikan penjualan mencapai 6-28 persen, tapi kenaikan beban pokok penjualan kenaikannya mencapai 9-46 persen.  

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, yang memimpin kue pasar semen sebesar 43,8 persen, membukukan penjualan sepanjang kuartal I-2014 sebesar Rp 6,18 triliun. Meski penjualannya naik 11,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, tapi beban pokok penjualannya naik lebih tinggi sebesar 14,5 persen menjadi Rp 3,5 triliun. Kenaikan ini disebabkan kenaikan biaya bahan baku dan produksi sebesar 23,52 persen menjadi Rp 3 triliun.  

Kenaikan beban pokok penjualan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk, bahkan hampir dua kali dari kenaikan penjualannya. Penjualan Indocement sebesar Rp 4,5 triliun, sebenarnya lebih tinggi dari 6,6 persen dibandingkan kuartal I tahun lalu. Namun, bebannya yang sebesar 2,53 triliun, 12,5 persen lebih tinggi dibandingkan penjualan.  

Kenaikan penjualan PT Semen Baturaja Tbk sebesar 27,7 persen memang paling tinggi kenaikannya dari emiten lainnya. Meski demikian, kenaikan beban penjualannya pun paling tinggi yakni mencapai 46,24 persen.  

Di antara anjloknya perolehan margin keuntungan empat emiten tersebut, hanya PT Holcim Indonesia Tbk yang masih cukup bisa menahan penurunannya. Kenaikan beban penjualan sebesar 9,26 persen masih bisa diimbangi dengan kenaikan penjualannya sebesar 9,11 persen. Hasilnya margin laba kotor yang diperoleh Holcim hanya sedikit mengalami penurunan, dari 29,34 persen pada kuartal I tahun lalu, menjadi 29,24 pada kuartal I tahun ini.  

Menurut Ketua Asosiasi Semen Indonesia Widodo Santoso, kenaikan beban biaya produksi masih akan berlanjut hingga akhir tahun ini. Hal ini akibat dari keputusan pemerintah menaikan tarif dasar listrik secara bertahap hingga akhir tahun.  

Akibat kenaikan tarif listrik tersebut, industri semen akan meresponsnya dengan kenaikan harga. "Saya belum tahu, apakah dengan kenaikan biaya produksi itu (kuartal I-2014) industri semen akan menaikan harga jual. Akan tetapi kalau kenaikan tarif listrik, pasti akan menaikan harga jual semen," ujarnya kepada Katadata, Jumat (2/5).  

Meski demikian, pertumbuhan penjualan empat emiten semen tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan konsumsi semen sepanjang kuartal I tahun ini. Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia total konsumsi semen di Indonesia sepanjang kuartal I tahun ini mencapai 14,07 juta ton. Konsumsi ini naik 3,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 13,57 juta ton.

Reporter: Safrezi Fitra
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait