Menperin Fokus Bangun 10 Kawasan Industri di Luar Jawa

Program inisesuai arahan dan tujuan yang ingin dicapai Presiden Republik Indonesia Joko Widodo
Image title
Oleh
28 Oktober 2014, 14:20
Menteri Perindustrian Saleh Husin KATADATA|Arief Kamaludin
Menteri Perindustrian Saleh Husin KATADATA|Arief Kamaludin
Menteri Perindustrian Saleh Husin

KATADATA ? Saleh Husin mengaku akan memprioritaskan pembangunan 10 kawasan industri di luar pulau Jawa, tugas awalnya sebagai Menteri Perindustrian (Menperin). Lebih khusus lagi, pembangunan tersebut terutama di bagian timur Indonesia.

Teknisnya pembangunan kawasan industri ini, pemerintah akan menggandeng pihak swasta. "Detailnya seperti apa, akan kami sampaikan nanti. Memang kebetulan sudah dilakukan (oleh kementerian sebelumnya). Ini harus dipercepat, supaya dapat tercapai," ujar Saleh, usai acara serah terima jabatan (sertijab), di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (28/10).

Sore ini, Saleh bersama menteri lain di bawah koordinasi Kementerian Perekonomian akan membahas program tersebut. Menurut dia, pembangunan kawasan industri di luar Jawa ini sesuai arahan dan tujuan yang ingin dicapai Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Dia menjelaskan, pembangunan di daerah timur menjadi yang utama. "Nanti (program) ini kami sinergikan (dengan program Menteri Perindustrian sebelumnya). Supaya pertumbuhan industri bisa terutama di Timur Indonesia."

Advertisement

Industri yang akan dibangun juga harus menyerap banyak tenaga kerja, agar jumlah pengangguran di luar Jawa juga berkurang. Untuk menarik minat investor, kata Saleh, kawasan industri yang akan dibangun harus mudah dijangkau.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian sebelumnya MS Hidayat mengusulkan agar menteri yang baru bisa sesegera mungkin memberikan insentif bagi industri hulu. Hal ini penting untuk mengatasi defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan.

Seperti diketahui, defisit neraca perdagangan terjadi karena impor bahan baku dan bahan penolong yang terlalu besar. Bahkan porsinya mencapai 93 persen dari total impor. Menurut Hidayat, untuk mengurangi impor tersebut, harus dibangun industrinya di dalam negeri. Makanya butuh insentif agar investor mau berinvestasi di industri bahan baku.

"Yang urgent itu mengegolkan insentif pajak atau bea masuk, ataupun fasilitas untuk membangun industri bahan baku dan bahan baku penolong. Kalo tidak dilakukan dan tidak difasilitasi, kita akan terus defisit," kata Hidayat.

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait