Pelemahan Harga Minyak Kurangi Defisit Rp 200 Miliar

Perhitungan Askolani apabila harga minyak naik US 1 dolar maka tambahan defisit mencapai Rp 2 triliun dalam setahun
Image title
Oleh
9 Oktober 2014, 10:17
BBM KATADATA | Arief Kamaludin
BBM KATADATA | Arief Kamaludin
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ?  Tren melemahnya harga minyak mentah di tingkat internasional akan membuat defisit anggaran semakin berkurang. Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani menghitung pelemahan harga minyak ini akan menurunkan defisit anggaran 2014 sebesar Rp 200 miliar.

Menurut dia semakin murah harga minyak berimbas pada penurunan dana pada pos pendapatan dan belanja negara. Namun, karena pengaruh harga minyak pada belanja negara jauh lebih besar dibandingkan pada pos pendapatan, maka defisit anggaran berkurang.

Secara umum, jika harga minyak turun maka subsidi energi bisa turun baik subsidi bahan bakar minyak (BBM) maupun subsidi listrik. APBN-P 2014 mengalokasikan dana belanja subsidi Rp 403,04 triliun, yang sebagian besar untuk subsidi BBM dan listrik. Jika dibandingkan dengan target penerimnaan dan sektor minyak dan gas (migas) yang sangat kecil. Salah satunya target pajak penghasilan (PPh) sektor migas tahun ini hanya Rp 83,89 triliun.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat rata-rata Indonesian Crude Price (ICP)Januari-September 2014 sebesar US$ 104 per barel, lebih rendah dibandingkan target US$ 105 per barel. Dengan tren harga minyak yang melemah, ICP hingga akhir tahun ini semakin menjauh dari target.

Advertisement

Perhitungan Askolani, apabila harga minyak naik US$ 1 dolar maka tambahan defisit mencapai Rp 2 triliun dalam setahun. Begitu pula sebaliknya, kalau harga minyak turun U$ 1 dolar, maka defisit anggaran turun Rp 2 triliun.

Namun, Askolani mengingatkan ICP bukan satu-satunya faktor. Masih ada faktor lain yang mempengaruhi defisit anggaran, yakni nilai tukar rupiah yang sekarang juga cenderung melemah. Sesuai data Bank Indonesia, rata-rata nilai tukar rupiah pada kurs tengah hingga 8 Oktober 2014 mencapai Rp 11.761,62 per dolar AS. APBN-P 2014 mematok nilai tukar Rp 11.600 per dolar AS. "Kurs agak signifikan perubahannya, sedangkan ICP tidak banyak, jadi efeknya tak seberapa," ujar Askolani seperti dikutip Kontan (9/10).

Reporter: Redaksi
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait