Menkeu Minta Kuota BBM Bersubsidi Tidak Dikunci Lagi

Untuk menghadapi ekonomi yang menantang tahun depan perlu adanya fleksibilitas
Image title
Oleh
26 September 2014, 16:36
BBM Subsidi
Arief Kamaludin|KATADATA
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ?  Menteri Keuangan Chatib Basri meminta Badan Anggaran DPR tidak lagi mengunci besaran kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dalam RAPBN 2015 seperti tahun ini. Untuk menghadapi ekonomi yang menantang tahun depan, perlu adanya fleksibilitas.

"Saya tidak mengatakan pematokan kuota sebesar 46 juta kiloliter itu salah, namun perlu asumsi konservatif," ujar Chatib di Jakarta, Jumat (26/9).

Menurut Chatib, fleksibilitas kuota BBM bersubsidi tetap perlu meski besar kemungkinan harga minyak akan naik dalam jangka pendek. Kenaikan harga BBM itu disebabkan krisis Rusia-Ukraina. Pemerintah baru diharapkan mampu berkonsolidasi dengan parlemen untuk mendorong asumsi yang konservatif sehingga memudahkan ruang gerak pemerintah mengendalikan konsumsi BBM.
"Nanti kan masih ada APBNP jadi masih terbuka kemingkinan, itu bisa di-review," katanya.

Banggar DPR dan pemerintah sementara menyepakati besaran kuota BBM bersubsidi dalam RUU APBN 2015 sebanyak 46 juta kl. Angka ini direvisi turun dari usulan awal pemerintah sebanyak 48 juta kl. Dari sisi nominal, alokasi belanja subsidi BBM dalam RAPBN 2015 disepakati Rp 276 triliun, atau lebih kecil Rp 15,1 triliun dibanding usulan nota keuangan RAPB 2015 sebesar Rp 291,1 triliun. (Baca: Subsidi BBM 2015 Disepakati Rp 276 Triliun)

Advertisement

Dalam APBNP 2014, DPR dan pemerintah mengunci besaran kuota BBM bersubsidi 46 juta kiloliter sehingga tidak ada opsi penambahan kuota. PT. Pertamina (Persero) selaku penyedia BBM memproyeksikan hingga akhir tahun nanti konsumsi BBM bersubsidi akan jebol hingga sekitar 1,62 juta kl. Kuota BBM jenis premium diperkirakan habis pada 24 Desember, kerosine atau minyak tanah pada 22 Desember, sedangkan solar pada 6 Desember. (Baca: Kuota BBM Subsidi Habis Pertengahan Desember 2014)

Reporter: Petrus Lelyemin
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait