Target Pajak Sulit Dicapai

Realisasi penerimaan pajak pada semester I2014 ini baru mencapai 421 persen
Image title
Oleh
4 September 2014, 13:09
Fuad Rahmany KATADATA|Donang Wahyu
Fuad Rahmany KATADATA|Donang Wahyu
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ?  Di tengah melambatnya perekonomian, penerimaan pajak 2015 ditargetkan naik 10 persen dari target 2014. Padahal realisasi penerimaan pajak pada semester I/2014 ini baru mencapai 42,1 persen.

Dalam RAPBN, target penerimaan pajak sebesar Rp 1.370,8 triliun atau naik 10 persen dengan target dalam APBN Perubahan 2014 sebesar Rp 1.246,1 triliun. Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Fuad Rahmany mengatakan Direktorat Jenderal Pajak akan berusaha mencapai target tersebut meski target itu terlihat berat.

"Saya akan usahakan 100 persen (realisasi), meski tidak mungkin, karena pertumbuhan (ekonomi) saja tidak tercapai," ujar Fuad dalam rapat di Badan Anggaran DPR.

Fuad menuturkan melambatnya penerimaan pajak saat ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi dan kinerja sektor penopang pajak yang menurun. Dia mencontohkan pada 2011 yang pertumbuhan ekonominya 6,5 persen realisasi pajak mencapai 97,26 persen. Namun pada 2012 dan 2013 realisasi menurun menjadi 94,38 persen dan 92,58 persen karena pertumbuhan ekonomi yang menurun. Pada 2013, pertumbuhan ekonomi hanya tumbuh 5,78 persen dari target 6,2 persen. "Pertumbuhan ekonominya jauh dari target, penerimaan pajak juga begitu," tuturnya.

Advertisement

Penurunan kinerja sektor tambang dan industri pengolahan yang menurun mempengaruhi penerimaan pajak. Sementara sektor usaha mikro kecil dan menengah sulit ditarik pajaknya. 

Fuad menambahkan rasio pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) atau tax ratio masih rendah yaitu hanya 12 persen. Hal itu juga dipengaruhi kapasitas dan jumlah pegawai pajak yang kurang, yaitu 3 ribu orang. "Teknologi juga kurang mendukung. Jika kapasitas ini ditingkatkan maka penerimaan pajak juga meningkat," tuturnya.

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait