DPR Belum Restui PMN BUMN

Komisi VI masih perlu membahas kinerja dan pencapaian BUMN yang mendapatkan PMN tersebut
Image title
Oleh
3 September 2014, 11:39
BUMN.jpg
Arief Kamaludin | KATADATA
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) belum mengabulkan permintaan penyertaan modal negara (PMN) sejumlah badan usaha milik negara (BUMN). DPR masih akan membahas kembali besaran PMN yang diajukan itu.

Beberapa BUMN yang mengajukan PMN yaitu PT Pertamina, Perusahan Listrik Negara (PLN) dan PT PAL. Ketua Komisi VI Airlangga Hartarto mengatakan Komisi VI masih perlu membahas kinerja dan pencapaian BUMN yang mendapatkan PMN tersebut.
"Untuk Pertamina dan PLN bisa diterima, namun masih ada hal lain yang harus dibahas," ujarnya.

Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI, Pertamina meminta PMN sebesar Rp 677,6 miliar. Sedangkan PLN mengajukan PMN Rp 5,23 triliun, dan PMN PT PAL diusulkan Rp 1,5 triliun. Anggota DPR menyoroti kinerja ketiga BUMN tersebut. Nasril Bahar dari Fraksi Partai Amanat Nasional misalnya mempertanyakan proyek 10 ribu mega watt misalnya. " Realisasinya berapa persen?," ujarnya.

Dirut PT PAL Harsusanto Soenarwan juga disinggung tentang pengaruh PMN terhadap kinerja perusahaan. Dia menjelaskan, PT PAL mengalami rugi usaha Rp 224 miliar dan rugi besarih Rp 1,3 miliar pada 2011. Namun sejak menerima PMN pada akhir 2011, kinerja perusahaan membukukan laba bersih Rp 263 miliar. 

Advertisement

Menurut dia tren laba bersih terus meningkat. Namun kinerja perusahaan menurun akibat nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar. Hal itu membuat beban utang di masa lalu harus dibayar dalam bentuk dolar AS. "Utang masa lalu sebelum 2011 kebanyakan dalam bentuk dolar sehingga terpengaruh kurs. Sehingga kinerja terlihat turun," tuturnya.

Direktur Keuangan Pertamina Andri T Hidayat menjelaskan Pertamina mengajukan modal dari pemerintah itu sebesar Rp 677,6 miliar. Dana itu akan digunakan untuk membiayai tiga proyek, salah satunya proyek Lumut Balai Geothermal Power Plan. 

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait