Menkeu: Tahun Depan, Likuiditas Lebih Ketat

Menteri Keuangan Chatib Basri menilai tantangan pemerintahan baru tahun depan lebih berat dibanding tahun ini Pemerintah Joko WidodoJusuf Kalla akan menghadapi likuiditas keuangan yang semakin ketatChatib menjelaskan pengatatan liku
Image title
Oleh
28 Agustus 2014, 17:06
Chatib Basri
Arief Kamaludin|KATADATA
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Menteri Keuangan Chatib Basri menilai tantangan pemerintahan baru tahun depan lebih berat dibanding tahun ini. Pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla akan menghadapi likuiditas keuangan yang semakin ketat.

Chatib menjelaskan pengatatan likuiditas tahun depan tak bisa dihindarkan karena Bank Sentral Amerika (The Fed) yang akan menaikkan suku bunga mulai tahun depan. Kenaikan suku bunga The Fed itu maka pasar keuangan negara emerging market akan mengalami tekanan. "Bukan tak mungkin Yellen (Gubernur The Fed) akan menaikkan suku bunga 100 basis point" ujar Chatib dalam "Indonesia Banking Expo," di Jakarta, Kamis (28/8).

Pemerintah baru harus mewaspadai kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika karena berdampak pada harga obligasi yang akan turun, sehingga imbal hasil utang naik. Kenaikan suku bunga itu kemungkinan akan direspon Bank Indonesia (BI) yang juga akan menaikkan bunga acuannya (BI Rate). Selanjutnya, perbankan di Indonesia ikut merespon dengan menaikkan suku bunga deposito untuk menarik dana masyarakat. "Artinya likuiditas perbankan akan sangat ketat. Segmentasi bank besar maupun bank kecil menjadi persoalan," ujar dia.

Menurut Chatib, beberapa langkah yang sudah dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi hal tersebut adalah mencari diversifikasi sumber keuangan. Misalnya bekerjasama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) untuk membeli surat utang negara (SUN).  Sehingga lembaga domestik bisa membeli SUN lebih banyak. ?Ketergantungan dengan sumber (dana) luar akan lebih kecil,? katanya.

Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA) Tbk Jahja Setiaatmadja mengatakan, hal itu bisa dijadikan peringatan bagi bank bank untuk tidak membuat rencana bisnis terlalu tinggi. Untuk mengantisipasi pengetatan likuiditas tersebut, bank bank di Indonesia harus mengurangi laju pertumbuhan kredit. 

Menurut dia perbankan sulit untuk mematok pertumbuhan kredit hingga 25 persen. Bank sebaiknya memasang target di kisaran 15 persen. "Bisa jadi (tahun depan) likuiditas ketat dan makin berebut dana kalau pertumbuhan kreditnya tinggi, itu yang harus diseimbangkan. Keinginan melepas kredit itu yang harus dibatasi," tuturnya.

Reporter: Rikawati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait