BI: Tiga Keuntungan Jika Pemerintah Atasi Tekanan Subsidi BBM

Keuntungan itu adalah menurunkan defisit APBN menurunkan impor dan mengurangi utang negara
Image title
Oleh
27 Agustus 2014, 18:52
BBM Subsidi
Arief Kamaludin|KATADATA
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Bank Indonesia menilai setidaknya ada tiga keuntungan jika pemerintah mengatasi tekanan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Keuntungan itu adalah menurunkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), menurunkan impor, dan mengurangi utang negara.

Menurut Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, upaya yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengurangi subsidi BBM yaitu dengan menaikkan harga BBM atau menetapkan subsidi tetap (fix). "Kalau pemerintah menjelaskan ke masyarakat dengan transparan dan baik, saya rasa masyarakat akan bisa terima," ujar Mirza usai menghadiri acara halal bi halal komunitas keuangan pasar syariah, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (27/8).

Dia mengatakan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi menjadi 46 juta kiloliter tahun ini, dibanding sebelumnya 48 juta kiloliter untuk mengurangi defisit APBN yang meningkat. Defisit APBN yang tadinya di bawah 2 persen, kini menjadi 2,4 persen. Bertambahnya defisit itu membutuhkan pembiayaan lebih besar. "Yang artinya pemerintah harus utang lebih besar," ujarnya.

Pengurangan konsumsi BBM juga akan menurunkan impor yang selama ini membebani neraca perdagangan Indonesia. Mirza menyebutkan impor minyak bisa mencapai US$ 3,7-4 miliar per minggu. Apalagi saat ini ekspor melemah dan harga komoditas turun. "Angka impor BBM itu sangat besar," ujarnya.

Dengan mengurangi impor BBM, lanjut Mirza, penghematan subsidi BBM itu bisa digunakan untuk membangun infrastruktur, seperti sarana pendidikan, jalan, dan kesehatan. Selain itu hasil penghematan itu juga bisa digunakan untuk mengembangkan energi pengganti minyak bumi. Sehingga selain mengurangi beban subsidi, pemerintah juga harus melakukan diversifikasi energi untuk mengurangi kebutuhan akan minyak. Karena untuk menumbuhkan perekonomian, juga membutuhkan energi yang besar. 

"Energi bisa gas, batu bara, panas bumi, angin, air. Itu yang harus dilakukan oleh pemerintah mendatang. Selain menurunkan subsidi energi juga diversifikasi energi untuk mengurangi ketergantungan impor," ujar Mirza.

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait