Harga BBM Naik, Inflasi Diprediksi Melonjak 2,5 Persen

Dampak kenaikan harga BBM hanya bersifat jangka pendek
Image title
Oleh
27 Agustus 2014, 15:54
inflasi
Arief Kamaludin|KATADATA
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi) bisa menyebabkan laju inflasi melonjak. Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, mengatakan jika pemerintah menaikkan harga sebesar Rp 1.000-Rp 2.000 per liter, diperkirakan inflasi dapat naik antara 1,5 persen-2,5 persen.

Meski demikian, lonjakan inflasi tersebut hanya berlangsung untuk jangka pendek. Bahkan dalam jangka panjang, kenaikan harga BBM malah bisa menurunkan tingkat suku bunga acuan (BI Rate). Persoalannya, selama ini kenaikan suku bunga disebabkan defisit anggaran yang terus melebar.

?(Pemberian) subsidi fix (tetap) atau menaikkan harga BBM itu harus dilakukan, karena itu problem kenapa suku bunga sulit turun," ujar dia di Jakarta, Rabu (27/8).

Josua Pardede, ekonom Global Market Bank Permata, memperkirakan tekanan kenaikan harga BBM bersubsidi terhadap inflasi hanya akan terasa selama setahun. ?Perhitungan kami kalau harga BBM naik 1 persen akan sebabkan kenaikan inflasi 0,055 persen. Kalau naik jadi Rp 10 ribu, kenaikannya 30 persen, jadi inflasi naik 2 persen," ujar dia.

Dia mengatakan, pada Maret-April merupakan waktu yang tepat untuk menaikkan harga BBM. Ini lantaran pada bulan tersebut terjadi panen raya sehingga imbas kenaikan inflasi pun tidak akan tinggi.

" Harga pangan turun. Jadi kalau menaikkan harga BBM dampaknya nggak terlalu besar,? kata Josua.

Adapun terkait tingkat BI Rate, Josua menilai, akan lebih terpengaruh rencana kenaikan suku bunga The Fed. Jika The Fed menaikkan suku bunga tahun depan, diperkirakan BI Rate akan naik maksimal 50 basis poin saja.

?Karena kenaikannya sudah sangat tinggi, jadi kenaikannya nggak akan lebih dari itu," ujar dia.

Tahun lalu, ketika pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi pada akhir Juni, inflasi Juli (yoy) naik jadi 8,6 persen dari 5,9 persen pada bulan sebelumnya. 

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait