Jero Wacik: BBM Tak Langka, Masih Ada Pertamax

Yang dikurangi adalah BBM bersubsidi karena BBM non subsidi seperti Pertamax masih tersedia
Image title
Oleh
25 Agustus 2014, 13:39
Atri BBM KATADATA|Agung Samosir
Atri BBM KATADATA|Agung Samosir
KATADATA | Agung Samosir

KATADATA ?  Pemerintah menyatakan antrian yang terjadi di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di beberapa wilayah disebabkan adanya kepanikan masyarakat akan terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengatakan hal itu merupakan konsekuensi dari pembatasan kuota BBM bersubsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2014 dari 48 juta kilo liter menjadi 46 juta kilo liter.

Menurut Jero, tidak ada kelangkaan BBM. Tetapi yang dikurangi adalah BBM bersubsidi, karena BBM non subsidi seperti Pertamax masih tersedia. "Jadi beli Pertamax saja. Jangan dikesankan langka tidak ada BBM. Kan itu beda," ujar Jero di Gedung DPR, Jakarta, Senin (25/08).

Pembatasan penyaluran BBM subsidi oleh SPBU itu merupakan upaya untuk memastikan kuota 46 juta KL mencukupi hingga akhir tahun. Jika hal itu tidak dilakukan, maka kuota BBM premium akan habis pada pertengahan Desember. Sedangkan solar akan habis pada awal Desember 2014. Jika kuota habis sebelum akhir tahun, Jero memastikan pemerintah tak bisa menambah kuota BBM bersubsidi.

Direktur Niaga dan Pemasaran PT Pertamina (Persero) Hanung Budya menjelaskan adanya antrean pembelian karena SPBU, menyalurkan BBM subsidi sesuai dengan kuota setiap harinya. Hal itu sebagai konsekuensi pengurangan kuota BBM dan SPBU juga harus mengurangi kuota penjualan BBM.

Menurut dia, untuk mengendalikan BBM subsidi, Pertamina hanya memiliki dua pilihan. Pertama, menyalurkan BBM tanpa melakukan pengendalian sehingga BBM subsidi akan habis sebelum akhir tahun dan yang tersedia hanya BBM non subsidi. Kedua, menyalurkan BBM subsidi sesuai dengan kuota dan BBM non subsidi tetap tersedia. "Ini pilihan sama sama sulit," katanya. 

Pertamina mengambil kebijakan memotong alokasi penyaluran BBM bersubsidi untuk premium sebesar 5 persen. Sedangkan untuk solar bersubsidi dipangkas 15 persen per hari. Kebijakan itu dilakukan di seluruh SPBU, terutama Indonesia bagian barat. Hanung juga memastikan tidak ada kelangkaan BBM. Namun yang terjadi adalah pengendalian BBM. "Tetapi belakangan masyarakat panik karena isu beberapa SPBU kosong kemudian terjadi rush (penarikan BBM secara besar besaran)," katanya.

Hanung menjelaskan meski kuota BBM subsidi dibatasi, namun BBM non subsidi tidak dibatasi. Sehingga masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi diarahkan membeli BBM non subsidi. Dia juga memastikan tidak ada penimbunan subsidi BBM pada pengecer.

Reporter: Rikawati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait