Asing Lebih Optimistis Lihat Prospek Pasar Saham RI

Investor asing cenderung berpikir untuk jangka panjang Sedangkan domestik lebih memilih jangka pendek
Image title
Oleh
22 Agustus 2014, 11:46
Bursa KATADATA | Arief Kamaludin
Bursa KATADATA | Arief Kamaludin
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Investor asing lebih optimistis melihat kinerja pasar modal Indonesia. Hal ini terlihat dari kinerja indeks reksa dana di bursa New York yang memuat saham-saham layak investasi Indonesia atau yang disebut EIDO.  

Sejak awal tahun, kinerja indeks EIDO sudah tumbuh sebesar 29 persen. Ini lebih tinggi dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tumbuh 22 persen.

Menurut David Nathanael Sutyanto, analis First Asia Capital, investor asing optimistis ada kesempatan bagi perekonomian Indonesia untuk tumbuh lebih baik. Apalagi adanya pemerintahan baru yang dinilai akan membuat kebijakan baru untuk memperbaiki perekonomian saat ini.

?Pelaku pasar (asing) optimismenya lebih tinggi, makanya wajar kalau EIDO tumbuh lebih tinggi dibanding IHSG. Mereka (investor asing) menganggap pemilu ini bisa menjadi langkah awal untuk meningkatkan investasi mereka,? ujar David saat dihubungi Katadata, Jumat (22/8).

Dia mengatakan, perbedaan cara berpikir antara investor asing dan lokal juga menjadi penyebab pertumbuhan EIDO dan IHSG yang berbeda. Investor asing, kata David, cenderung berpikir untuk jangka panjang. Sedangkan domestik lebih memilih jangka pendek.

?Jadi kalau ada sentimen, seperti kemarin Mahkamah Konstitusi (MK) atau rilis ekonomi yang nggak sesuai ekspektasi, mereka (investor domestik) keluar. Beda dengan investor asing yang melihatnya jangka panjang,? tutur dia.

David menambahkan, proses pemilu yang berjalan lancar memberi sentimen positif bagi investor asing, sehingga mereka berharap akan ada pertumbuhan ekonomi. Meskipun data-data ekonomi Indonesia tercatat tidak sebaik ekspektasi pasar.

Misalnya, pertumbuhan ekonomi yang hanya sebesar 5,17 persen pada kuartal I-2014. Defisit neraca perdagangan yang mencapai US$ 300 juta per Juni, dan defisit transaksi berjalan sebesar 4,27 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) atau senilai US$ 9,1 miliar pada kuartal II.

?Kalau asing maunya kan simple. Meskipun inflasi tinggi, pertumbuhan ekonomi yang kurang baik, mereka berharap dengan adanya pemerintahan baru semua hal itu bisa diperbaiki,? ujar dia.

Adapun kebijakan yang diinginkan pasar adalah percepatan pembangunan infrastruktur dan mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak (BBM). Hal ini yang membuat investor asing memilih tetap menanamkan modalnya di bursa saham EIDO.

?Hingga saat ini belum ada tanda-tanda mereka (investor asing) mau keluar, padahal mereka sudah bisa keluar. Ini karena mereka yakin kebijakan ke depan akan berbeda dan ada kemungkinan pemerintahan akan lebih baik. Jadi ada keyakinan, apa yang mereka inginkan akan terjadi,? jelas dia.

Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, kenaikan EIDO lebih didukung oleh kinerja positif saham-saham yang diperdagangkan. Hal ini membuat optimisme investor asing semakin positif terhadap perekonomian dalam negeri.

?Bukan hanya soal optimisme, tapi lebih pada komposisi isi EIDO itu sendiri. Tergantung kinerja fundamental masing-masing saham juga,? kata Edwin.

?EIDO itu kan kumpulan saham big caps, sedangkan IHSG semua saham yang listing. Jadi nggak heran (kalau EIDO tumbuh lebih tinggi).?

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait