SBY Ingatkan Tantangan Ekonomi Pemerintah Baru Tak Mudah

Pertumbuhan ekonomi tahun depan diperkirakan 56 persen
Image title
Oleh
15 Agustus 2014, 17:04
Katadata
Foto: Abror/presidenri.go.id

KATADATA ?  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan tantangan ekonomi Indonesia bagi pemerintah baru tidaklah mudah. Bahkan akan lebih berat dibanding tahun sebelumnya.
?
Dalam pidato penyampaian keterangan pemerintah atas Rancangan Undang Undang Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) tahun anggaran 2015 beserta nota keuangan, SBY mengingatkan gejolak ekonomi dan perlambatan ekonomi global terus berlanjut. Ditambah ketidakpastian politik di berbagai belahan dunia menimbulkan ketidakpastian. Pertumbuhan ekonomi semester I/2014 sendiri melambat menjadi 5,2 persen.

"Dengan kondisi perekonomian dunia seperti ini, saya mengingatkan tantangan ke depan tidaklah mudah," ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, Jumat 15 Agustus 2014.

?Perlambatan pertumbuhan ekonomi itu berdampak meningkatkan kemiskinan. Dalam RAPBN 2015, pertumbuhan ekonomi tahun depan diperkirakan 5,6 persen. Pertumbuhan ini didukung faktor eksternal dan membaiknya stabilitas dan fundamental ekonomi.

Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung juga mengingatkan hal serupa. Menurutnya tak mudah bagi pemerintah baru untuk menaikkan kembali pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan tahun depan di kisaran 5-6 persen saja sudah termasuk baik.
"Tantangan pemerintah baru sangat berat," ujar Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung di Gedung DPR.

Pertumbuhan ekonomi pada Kuartal II sebesar 5,12 persen  atau melambat dibanding kuartal sebelumnya 5,21 persen. Bank Indonesia sendiri memprediksi pertumbuhan ekonomi berada di batas bawah di kisaran 5,1-5,5 persen. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan jika pertumbuhan ekonomi bisa di atas 5 persen, hal itu merupakan pencapaian yang bagus. "Namun pertumbuhan akan cenderung di kisaran batas bawah," ujarnya.
 

Petrus Lelyemin

Reporter: Rikawati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait