Pemerintah Perlu Naikkan Harga BBM Bersubsidi

Kalau tidak dinaikan sekarang akan lebih sulit bagi defisit transaksi berjalan untuk mencapai target
Image title
Oleh
14 Agustus 2014, 20:04
rupiah dolar arief.jpg
Arief Kamaludin|KATADATA
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Sejumlah pengamat menilai pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) perlu menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Hal ini harus segera dilakukan, untuk mencegah jurang defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan agar tidak terlalu besar.

Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) baru saja mengumumkan defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2014 mencapai US$ 9,1 milliar atau 4,27 persen dari produk domestik bruto (PDB). Defisit ini membengkak hingga dua kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya US$ 4,2 miliar, atau 2,1 persen dari PDB. Tingginya defisit ini utamanya disebabkan oleh defisit neraca perdagangan, yang disebabkan oleh tingginya impor minyak.

(Baca: Defisit Transaksi Berjalan Melebar Hingga 4,3 Persen dari PDB)

"Kalau tidak dinaikan (harga BBM bersubsidi) sekarang, akan lebih sulit bagi defisit transaksi berjalan untuk mencapai target," ujar Ali Setiawan, Managing Director Global Markets HSBC Indonesia, dalam paparan publiknya, di Jakarta, Kamis (14/8).

Menurutnya pada kuartal III-2014, neraca perdagangan akan lebih sulit untuk menguat, karena konsumsi masyarakat terus meningkat. Sementara perekonomian China dan India sebagai tujuan ekspor, masih mengalami perlemahan.  

Hal senada disampaikan oleh Direktur Institute for Economic and Social Research I Kadek Dian Sutrisna Artha. Dia tidak yakin defisit transaksi berjalan akan mencapai target dibawah 3 persen seperti yang ditargetkan pemerintah, jika pemerintah tidak berani menaikkan harga BBM bersubsidi.

(Baca: Defisit Transaksi Berjalan Naik, Chatib Optimis Akhir Tahun Berkurang)

"Saya rasa Pak SBY tidak akan (berani) menaikan harga BBM dan akan menyerahkannya ke pemerintahan mendatang," ujarnya kepada Katadata.

Padahal, menurutnya akan lebih adil jika pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi saat ini. Sehingga beban pemerintahan selanjutnya akan lebih ringan. Di sisi lain, tingkat inflasi yang sejak awal tahun hingga saat ini masih bisa terjaga, akan membuat dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi tidak akan terlalu besar. 

Selain itu, kata Kadek, perlu ada pendidikan kepada masyarakat mengenai penggunaan subsidi BBM, yang lebih banyak dinikmati oleh kalangan menengah ke atas. Sehingga masyarakat mengerti bahwa kenaikan harga BBM bersubsidi ini bukanlah hal yang negatif.

"Lalu selanjutnya subsidi tersebut harus diubah menjadi subsidi orang, bukan barang. Seperti (subsidi) pendidikan atau kesehatan," tutupnya. 

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait