BI Kembali Pertahankan BI Rate 7,5 Persen

Defisit transaksi berjalan meningkat mencapai US 91 miliar 427 persen dari PDB
Image title
Oleh
14 Agustus 2014, 16:45
bank indonesia.jpg
KATADATA/ Donang Wahyu
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ?  Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia kembali mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 7,5 persen. Suku bunga Landing Facility dan suku bunga Deposit Facility juga tetap pada level 7,50% dan 5,75 persen.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan kebijakan itu konsisten dengan target inflasi sebesar 4,5±1 persen pada 2014 dan 4±1 persen pada 2015 dan menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat.

Agus menyebutkan Indonesia masih menghadapi sejumlah risiko internal maupun eksternal. Dari sisi global, BI menilai pemulihan ekonomi dunia masih terus berlanjut. Perbaikan ekonomi global terutama ditopang perekonomian negara-negara maju seiring kebijakan moneter yang akomodatif dan meredanya tekanan fiskal. Perekonomian Amerika Serikat semakin kuat, namun pertumbuhan ekonomi negara berkembang relatif terbatas sehingga harga komoditas masih akan turun. Pertumbuhan ekonomi China pada triwulan II/2014 meningkat. BI mengingatkan adanya sejumlah risiko global yang perlu terus diwaspadai antara lain normalisasi kebijakan the Fed dan Bank of England.

Di sisi domestik, pertumbuhan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II tercatat 5,12 persen (yoy) atau melambat dibanding triwulan I sebesar 5,22 persen. Perlambatan itu disebabkan masih lemahnya kinerja ekspor komoditas sumber daya alam seperti batu bara, CPO dan mineral. Secara keseluruhan BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,1-5,5 persen dengan kecenderungan menuju batas bawah.

Sedangkan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat surplus yang ditopang kinerja transaksi modal dan finansial. Sedangkan defisit transaksi berjalan meningkat, mencapai US$ 9,1 miliar (4,27 persen dari PDB) dibanding triwulan I sebesar US$ 4,2 miliar (2,05 persen dari PDB). Dari sisi cadangan devisa, mengalami peningkatan menjadi US$ 110,5 miliar atau setara 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Pada triwulan II/2014, rupiah secara point to point melemah 4,18 persen (qtq) ke level Rp 11.855 per dolar AS. Sedangkan secara rata-rata rupiah masih tercatat menguat sebesar 1,76 persen ke level Rp 11.629 per dolar AS. Tekanan rupiah ini dipengaruhi permintaan korporasi yang cenderung meningkat sesuai pola musimannya untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen. Selain itu faktor sentimen terkait perilaku investor yang menunggu hasil pemilihan umum presiden dan kondisi eksternal seperti krisis geopolitik Ukraina dan konflik Irak juga berdampak pada pergerakan rupiah.

Reporter: Rikawati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait