Beri Keuntungan 30 Persen, Ini Penjelasan Leader MMM

Dana awal dari peserta yang baru digunakan untuk membayar keuntungan peserta lama
Image title
Oleh
12 Agustus 2014, 16:45
mata-uang-rupiah-100-ribu.jpg
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Saat ini masyarakat Indonesia tengah dihebohkan dengan jenis investasi baru bernama MMM atau Manusia Membantu Manusia. Investasi baru yang berasal dari Rusia dan masuk ke Indonesia sejak dua tahun lalu ini, mengaku bisa memberikan keuntungan 30 persen setiap bulan.

Banyak yang mempertanyakan bagaimana MMM bisa memberikan keuntungan yang besar tersebut. Padahal MMM sendiri bukanlah perusahaan dan tidak melakukan usaha atau bisnis apa pun yang bisa melipatgandakan dana dari investor atau pesertanya.

Leader MMM Indonesia Wilayah Bali I Kadek Mardika mengatakan bahwa MMM tidak membayar apapun kepada investor atau persertanya. Tetapi, peserta sendirilah yang membayar kepada peserta lainnya. 

(Baca: MMM Mengaku Bukan Perusahaan Investasi)

Teknisnya peserta baru, akan menyetorkan sejumlah uang dengan batas minimal Rp 1 juta dan maksimal 10 juta. Uang tersebut akan dibagikan untuk dibayarkan kepada peserta lama.

Dalam sistem ini, peserta baru atau yang memberikan bantuan, disebut sebagai provide help (PH), akan menyetorkan uang sebagai salah satu syarat keanggotaan. Setelah 15 hari, peserta tersebut akan bisa menjadi penerima bantuan, yang disebut sebagai get help (GH). 

"Kalau sudah 15 hari, peserta baru bisa menarik uangnya. Tapi keuntungannya baru 15 persen," ujar Kadek kepada Katadata, Selasa (12/8). 

Dalam satu bulan keuntungan yang bisa didapat oleh peserta tersebut mencapai 30 persen. Keuntungan tersebut didapat dari uang setoran awal peserta atau PH. Sistem akan memberikan daftar peserta yang akan ditranfer dari setoran PH.

Menurut Kadek, sistem ini akan terjaga keberlanjutannya, karena total PH yang disetorkan oleh peserta baru dibatasi maksimal hanya Rp 10 juta. Sedangkan GH, dibatasi maksimal US$ 8.000 per bulan atau sekitar Rp 90 juta per bulan.

Sistem MMM ini, kata Kadek, juga bisa berhenti jika tidak ada penambahan peserta baru atau PH. "Sama saja seperti bank, kalau tidak ada kredit kan juga tidak bisa jalan," ujarnya. 

Reporter: Safrezi Fitra
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait