Gubernur BI: Waspadai Kondisi Geo Politik Global

Perkembangan geopolitik di Ukraiana bisa berdampak naiknya harga minyak dan komoditas tambang
Image title
Oleh
8 Agustus 2014, 19:46
Agus Martowardodjo
Donang Wahyu|KATADATA
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ? Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan bahwa Indonesia perlu mewaspadai kondisi ekonomi global dan perkembangan geopolitik di beberapa negara. Karena hal ini bisa berpengaruh pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Meskipun nilai tukar rupiah saat ini masih stabil, BI tetap mengingatkan supaya Indonesia mewaspadai perkembangan geopolitik di Ukraina, yang dapat berdampak pada naiknya harga minyak dunia.

Langkah Rusia yang merespons negatif pemberian sanksi, dengan melarang impor sejumlah pangan dari Amerika Serikat dan Uni Eropa, telah berdampak pada menguatnya harga komoditas tambang. Rata-rata harga metal menguat 0.3 persen setelah melemah selama 2 hari. Sedangkan harga  timah menguat 0.5 persen dan nikel menguat 0.9 persen.

"Kondisi default (gagal bayar utang) di Argentina, ada default di Portugal. Ini bisa berdampak kepada regional dan bisa berdampak pada Indonesia," ujar Agus, di kantornya, Jakarta, Jumat (8/8).

Menurut Agus kondisi ekonomi global lain yang perlu diwaspadai yaitu normalisasi kebijakan Bank Sentral Amerika (Federasi Reserve / The Fed) yang menaikkan suku bunga. Hal ini akan berisiko terjadinya penarikkan dana asing keluar dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

BI memang sudah menyiapkan upaya untuk mengantisipasi dampak tersebut dengan berbagai bauran kebijakan, misalkan dengan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai dengan fundamental perekonomian. Bauran kebijakan ini diharapkan dapat menjaga inflasi dan transaksi berjalan pada kondisi yang lebih sehat.

Namun tetap saja kondisi perekonomian dan politik dunia harus diwaspadai. Apalagi, kata Agus, Indonesia masih menghadapi tantangan karena besarnya impor bahan bakar minyak (BBM), selain itu defisit dari minyak dan gas (migas) masih cukup besar. 

Reporter: Redaksi
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait