Rupiah Tak Terpengaruh Gagal Bayar Argentina

Kalau Indonesia kan nggak pernah default Jadi kita nggak lihat ada gejolak di surat utang pemerintah
Image title
Oleh
4 Agustus 2014, 13:46
No image
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Dampak gagal bayar (default) utang luar negeri Argentina dinilai tidak akan berdampak terhadap pasar keuangan di Indonesia. Kurs rupiah akan kembali menguat seiring dengan aktivitas pasar yang kembali normal setelah libur lebaran.

?Investor di emerging market, mereka sudah bisa membedakan pemerintah mana yang bisa menjaga rasio utang dan rasio defisit anggaran dengan baik. Kalau Indonesia kan nggak pernah default. Jadi kita nggak lihat ada gejolak di surat utang pemerintah kita,? kata Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), di Jakarta Senin (4/8).

Dia mengatakan, default Argentina sempat berdampak negatif terhadap rupiah pada akhir pekan lalu. Namun, volume pasar pada waktu itu sangat kecil sehingga pelemahan tidak terjadi pada situasi yang normal.  

?Kita buka Jumat, volume pasar spot antar-bank hanya US$ 44 juta, sementara volume pasar normal untuk spot antar-bank itu antara US$ 800 juta-US$ 1,5 miliar per hari. Jadi rupiahnya melemah bukan gambaran normal,? kata Mirza.

Dia memperkirakan, rupiah akan kembali menguat seiring dengan kembalinya aktivitas pelaku pasar. ?Beberapa hari ke depan baru kita bisa melihat (adanya penguatan). Setelah semua pelaku pasar masuk kantor dan melakukan perdagangan kembali,? tuturnya.

Pada perdagangan Senin (4/8), rupiah berada di posisi Rp 11.740 per dolar AS atau menguat tipis 0,5 persen pada penutupan perdagangan sesi pagi. Pada akhir pekan lalu rupiah berada di level Rp 11.803 per dolar AS.

Seperti diketahui, lembaga pemeringkat yang berbasis di Amerika Serikat, Standard and Poor's memangkas peringkat kredit obligasi Argentina menjadi Selective Default. Rating gagal bayar tersebut disematkan untuk surat utang pemerintah yang bertenor hingga 2033 senilai US$ 539 juta.

Pembayaran yield surat utang tersebut seharusnya jatuh tempo pada 30 Juni lalu. Dengan masa tenggang selama satu bulan, masa pembayaran terakhir seharusnya dilakukan pada Rabu (30/7). Namun, dalam periode itu pemerintah Argentina belum bisa menyelesaikan deadlock terkait pembicaraan dengan para kreditur yang diputuskan bakal menerima US$ 1,33 miliar. 

Standard and Poor?s menyatakan rating default tersebut bakal bertahan hingga Argentina membayar kewajibannya. Sebelumnya lembaga tersebut sudah memangkas rating kredit jangka panjang Argentina menjadi CCC-.

Kasus Argentina tersebut menambah kekhawatiran terhadap emerging market, di samping belum redanya krisis di Ukraina dan Rusia. Meskipun sejumlah analis menilai pengaruhnya hanya bersifat jangka pendek. 

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait