Menkeu: Pemerintah Mendatang Harus Naikkan Harga BBM Subsidi

Semua program dan target pertumbuhan tak bisa dicapai jika tidak ada ruang fiskal
Image title
Oleh
23 Juli 2014, 19:39
Chatib-Basri
KATADATA | Bernard Chaniago
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ? Menteri Keuangan Chatib Basri menilai kebijakan yang harus dilakukan pemerintah Joko Widodo- Jusuf Kalla nanti yaitu menaikkan harga BBM bersubsidi. Kebijakan itu untuk menciptakan ruang fiskal yang leluasa sehingga pemerintah mudah untuk menjalankan program-programnya.

"Kalau ditanya apa yang harus dilakukan pemerintahan sekarang atau mendatang, jawabannya cuma satu menaikkan harga BBM bersubsidi itu saja," ujarnya di Kantor Kementerian Keuangan, Rabu 23 Juli 2014.

Menurut Chatib, semua program dan target pertumbuhan tak bisa dicapai jika tidak ada ruang fiskal. Ruang fiskal itu bisa terjadi jika subsidi BBM dikurangi. Caranya dengan mengurangi BBM bersubsidi. 

Dengan kenaikan harga BBM juga akan memperbaiki kebijakan energi, karena permintaan terhadap energi terbarukan akan naik. Permintaan energi alternatif itu tak akan naik jika harga BBM murah. "Siapa yang  mau pindah ke gas jika harga BBM murah? atau beda dengan BBM subsidi hanya Rp 500?" ujarnya.

Kenaikan harga BBM itu bisa mengubah kebijakan fiskal. Jika harga BBM dinaikkan atau menetapkan subsidi tetap akan mengurangi pengeluaran subsidi. Ia mencontohkan misalnya negara memberi subsidi Rp 1000 untuk setiap liter premium, maka jika dikalikan kebutuhan BBM sebesar 50 juta kilo liter, maka akan menghabiskan biaya Rp 50 triliun. Padahal saat ini subsidi BBM Rp 246 triliun. "Coba bayangkan Rp 256 triliun dikurangi Rp 50 triliun maka ada sisa anggaran Rp 190 triliun," ujarnya.

Kenaikan BBM tidak bisa dilakukan tahun ini dikarenakan pengambilan keputusan kebijakan itu harus disepakati secara politik. Selain itu angka inflasi pasca kenaikan harga BBM pada 2013 lalu berdampak tingginya inflasi hingga 8,3 persen.

Ketika ditanya program 100 hari yang bisa dilakukan pemerintah baru, Chatib mengatakan problem Indonesia adalah seringkali muncul program ambisius dalam 100 hari namun akhirnya tidak dikerjakan. Menurutnya lebih baik program sederhana seperti meningkatkan kualita pelayanan publik. 

Menurutnya tantangannya saat ini adalah agar bagaimana masyarakat tidak terlalu euforia dan memiliki ekspektasi tinggi. Chatib mengingatkan adanya tekanan global, risiko geopolitik. Pertumbuhan ekonomi pada 2015 juga tidak akan meningkat tinggi, namun masih berada di kisaran 5,5-6 persen. "Tapi bukan berarti tidak bisa, tetapi secara bertahap," ujarnya.

Reporter: Rikawati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait