Ekonomi Indonesia Masuki Periode Stabilisasi

Jadi yang menikmati kenaikan harga saham kan hanya segmen tertentu
Image title
Oleh
10 Juni 2014, 13:35
Kantor Pusat Bank Mandiri 2.jpg
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Perekonomian Indonesia pada tahun ini dinilai telah memasuki periode stabilisasi. Hal ini ditandai dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi seiring peralihan penyokong pertumbuhan dari sektor tradable menjadi non-tradable.

Destry Damayanti, Kepala Ekonom Bank Mandiri, mengatakan peralihan tersebut menjadi indikasi menurunnya kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, situasi ini akan berlangsung lama dan akan lebih sulit untuk diatasi oleh pemerintah.

Stabilisasi yang dimaksud, kata Destry, adalah pemerintah harus menekan pertumbuhan jika ingin mencapai ekonomi yang stabil. ?Kebijakan yang efektif dari pemerintah yakni menahan pertumbuhan ekonomi, untuk mengurangi investasi. Untuk itu perlu ada pengetatan moneter,? kata dia saat dihubungi Katadata, Selasa (10/6).

Adapun sektor tradable mencakup sektor pertanian, pertambangan, manufaktur, dan pertanian yang menyerap tenaga kerja besar dan berorientasi ekspor. ?Tapi ini pelan-pelan mulai beralih ke sektor non-tradable setelah krisis 2008,? kata dia.

Dia mencontohkan sektor non-tradable antara lain hotel, restoran, transportasi, dan komunikasi yang pangsa pasarnya domestik. Menurutnya, pergeseran sektor produksi ini akan menyebabkan masalah bagi Indonesia, terutama jika ekonomi global mengalami perbaikan.

Persoalannya, kata Destry, kemampuan ekonomi dalam menyerap tenaga kerja semakin berkurang. Pada 2007, dia mencontohkan, setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi mampu menyerap 710 ribu orang. Sementara pada 2012, setiap 1 persen hanya menyerap 184 ribu orang.

?Kalau kita hanya fokus domestik akan masalah, karena industri dan pertanian kan serap tenaga kerja banyak. Akhirnya kemampuan ekonomi serap tenaga kerja berkurang,? tutur Destry.

Peralihan dari sektor tradable ke non-tradable telah membuat kesenjangan pendapatan semakin lebar. Menurutnya, pendapatan pada masyarakat bawah memang tumbuh, tapi lebih lambat dari pertumbuhan ekonomi.

?Jadi yang menikmati kenaikan harga saham, kan hanya segmen tertentu. Ini jadi tantangan ke depan, pemerataan bisa kalau arah perkembangan ekonomi merata jadi fokus di manufaktur dan pertanian,? kata Destry.

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Arsip
    News Alert

    Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

    Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
    Video Pilihan

    Artikel Terkait