Emiten Telekomunikasi Kurangi Anggaran Capex

Image title
Oleh
9 Juni 2014, 18:38
Kinerja Emiten Telekomunikasi Membaik.jpg
KATADATA/
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ? Perusahaan telekomunikasi sepertinya mulai menyiasati kenaikan belanja modal, akibat lemahnya rupiah tahun ini. Tiga emiten telekomunikasi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Indosat Tbk, dan PT XL Axiata Tbk menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

PT Telekomunikasi Indonesia menganggarkan belanja modal tahun ini hanya Rp 17,5 triliun. Padahal belanja modal tahun lalu sudah mencapai Rp 24,9 triliun. Sama halnya dengan XL Axiata yang menganggarkan belanja modal Rp 7 triliun, yang juga lebih rendah dari tahun lalu sebesar Rp 9 triliun.

Agar bisa tetap tumbuh, perusahaan telekomunikasi dituntut harus bisa terus melakukan ekspansi dengan menambah dan memperluas jaringan telekomunikasi. Makanya, kebutuhan belanja modal emiten sektor telekomunikasi pun harus terus meningkat.

Masalahnya, anggaran belanja modal perusahaan telekomunikasi lebih banyak digunakan untuk peralatan dan perangkat jaringan. Sementara peralatan tersebut sebagian besar dibeli dalam mata uang dolar Amerika Serikat.

Sejak pertengahan Juli tahun lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar mulai melemah. Saat itu harga dolar masih berada di bawah Rp 10.000, kemudian terus naik hingga Rp 12.500 pada Desember 2014. Pada 5 Juni, harga dolar berada pada level Rp 11.880. Makanya, dengan kondisi rupiah yang sedang terdepresiasi, membuat perusahaan telekomunikasi harus mengeluarkan anggaran yang ekstra besar.

Namun, bukan hanya akibat melemahnya nilai tukar rupiah. Kepala Riset Bahana Securities Harry Su mengatakan penurunan anggaran capex tersebut, disebabkan perusahaan telekomunikasi saat ini tengah mengubah strategi kebutuhan asetnya. Emiten telekomunikasi akan lebih selektif dalam membeli asset yang dibutuhkan, dan lebih memilih untuk menyewa asset tersebut kepada perusahaan lain.

?Emiten telekomunikasi saat ini mengadopsi light asset strategy, jadi belanja modalnya bisa lebih rendah. Misalnya, mereka tidak perlu memiliki tower sendiri, sekarang menyewa,? ujar Harry kepada Katadata, Senin (9/6). 

 

Reporter: Safrezi Fitra
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait