Robert Tantular Memaksa Membuat NCD

Kepala Bank Century Cabang Senayan Linda Wangsa Dinata mengaku dipaksa membuat Negotiable Certificate Deposito NCD oleh Robert Tantular yang merupakan pemegang saham Bank Century NCD merupakan sertifikat deposito yang bunganya dibayark
Image title
Oleh
25 April 2014, 14:40
Robert Tantular.jpg
KATADATA/
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Kepala Bank Century Cabang Senayan Linda Wangsa Dinata mengaku dipaksa membuat Negotiable Certificate Deposito (NCD) oleh Robert Tantular, yang merupakan pemegang saham Bank Century. NCD merupakan sertifikat deposito yang bunganya dibayarkan di awal.  

Saat itu Robert memerintahkan Linda untuk membuatkan 247 lembar NCD, yang masing-masing senilai Rp 2 miliar, dari dana deposito milik Budi Sampoerna sebesar US$ 96,5 juta. Linda pun sudah beberapa kali menolaknya dengan alasan administrasi dan waktu.  

Linda menceritakan, Robert beberapa kali menghubungi dan memintanya membuatkan NCD.  

"(Sabtu) Tanggal 15 November 2008, saya disuruh buat NCD sebanyak 247 lembar dari pindahan dana dari Surabaya ke cabang Senayan, yang katanya milik Budi Sampoerna," ujar Linda saat bersaksi dalam sidang kasus Bank Century dengan terdakwa mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jumat (25/4).  

Advertisement

Akan tetapi Linda tidak langsung menyetujui. Dia meminta Robert menyediakan fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik Budi Sampoerna. Sore harinya Robert kembali menghubunginya, dan mengatakan kalau KTP-nya sudah ada di bagian personalia.  

Namun, karena hari itu adalah hari libur, dia menyarankan agar NCD tersebut dibuat pada hari Senin. Tetapi, Robert kembali memaksa. Minggu, 16 November 2008, Linda diperintahkan masuk kantor. Saat itu ada rapat yang dipimpin langsung oleh Robert.  

Usai rapat, Robert kembali menyuruhnya menyelesaikan NCD yang dibuat, dengan alasan Budi Sampoerna sudah menunggu. Tetapi Linda kembali menolak, dengan alasan hari minggu sistem komputer bank tidak bisa beroperasi.  

Robert pun kembali memaksanya agar NCD harus dibuat hari itu juga, mengingat Budi Sampoerna merupakan nasabah besar. "Saya tidak bisa ngomong apa-apa. Karena, kata pak Robert, KTP sudah ada, dan dana sudah ada. Kamu mau beralasan apa lagi? Kalau pak Budi marah bagaimana?" terang Linda.  

Linda juga mengaku tidak mengetahui nama-nama yang tercantum dalam NCD tersebut. Makanya, dia meminta anak buahnya untuk membuatkan. "Pada hari Senin atau Selasa, Pak Robert bilang NCD sudah selesai tolong diantar ke Anton Tantular (adik Robert Tantular). Saya tidak bisa, jadi minta staf saya yang mengantar," kata Linda.  

Dalam sidang sebelumnya, Kamis (24/4), Robert Tantular mengaku bahwa pada 14 November 2008, dirinya bertemu dengan Budi Sampoerna. Pertemuan itu  membicarakan dana Budi Sampoerna, yang masih tersimpan di Bank Century sebesar Rp 1,7 triliun.  

Menurut Robert, sejak Agustus 2008 Budi Sampoerna mulai sering mencairkan dananya. "Alasannya karena panen tembakau lagi bagus. Jadi butuh uang untuk membeli tembakau. Awalnya tidak masalah, tapi belakangan likuiditas (Bank Century) makin berat. Sampai akhirnya, direksi memberi tahu Budi Sampoerna, (kalau) kami belum bisa bantu lagi," ujar Robert.  

Sebelum Bank Century dinyatakan kalah kliring, pada 8 November 2008 dia bersama dengan Wakil Direktur Utama Bank Century Hamidi berangkat ke Surabaya untuk meminta Budi Sampoerna menjadi pemegang saham. Akan tetapi Budi menolaknya.  

Setelah dinyatakan kalah kliring pada 13 November, pihak Budi Sampoerna mengusulkan rencana penyelamatan dananya di Bank Century. Usulannya, dana tersebut dipecah dalam bentuk deposito dengan besaran Rp 2 miliar, membeli aset Bank Century dan pinjaman US$ 18 juta.  Usulannya kemudian diajukan ke direksi Bank Century dan disetujui.  

Akhirnya, dana tersebut dipindah dari Surabaya ke Senayan  sebesar US$ 100 juta. Dananya dipecah menjadi 247 lembar NCD, atas nama karyawan-karyawan Budi Sampoerna. Kemudian, Robert juga meminjam US$ 18 juta untuk menutupi kerugian valas Bank Century, akibat penggelapan dana yang dilakukan kakaknya Dewi Tantular.

Reporter: Redaksi
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait