Saham Unilever Mahal, tapi Tetap Diminati

Harga saham PT Unilever Indonesia Tbk merupakan salah satu saham yang tangguh meski pasar menilai harganya sudah terlampau mahal Sejak awal tahun harga saham berkode UNVR ini telah mencatatkan kenaikan sebesar 14 persenPadahal konse
Image title
Oleh
14 April 2014, 00:00
3432.jpg
Sumber: Istimewa

KATADATA ? Harga saham PT Unilever Indonesia Tbk merupakan salah satu saham yang tangguh meski pasar menilai harganya sudah terlampau mahal. Sejak awal tahun harga saham berkode UNVR ini telah mencatatkan kenaikan sebesar 14 persen.

Padahal, konsensus analis menilai harga saham emiten di sektor produk rumah tangga tersebut sudah 11 persen lebih mahal dari perkiraan. Dari sekitar 20 analis, harga rata-rata saham Unilever diperkirakan sebesar Rp 27.156 per saham dalam 12 bulan ke depan. Sementara pada penutupan Jumat lalu, harga sahamnya tercatat sebesar Rp 30.525 per saham.

Analis memperkirakan harga tertinggi saham Unilever sebesar Rp 34.500 per saham, sedangkan yang terendah Rp 17.838 per saham.

Herman Koeswanto, analis PT Mandiri Sekuritas, menilai saham Unilever memiliki prospek yang tinggi di tengah membaiknya sektor konsumer. Untuk itu dia mengubah peringkat saham ini dari sebelumnya netral menjadi ?beli?.

Advertisement

Dia memperkirakan harga saham Unilever akan mencapai Rp 34.500 per saham dalam 12 bulan ke depan. ?Nilai yang premium ini dibuktikan dengan kemampuannya menciptakan nilai yang kuat dengan tingkat ROE yang menguntungkan serta model bisnis yang efisien,? kata Herman dalam risetnya beberapa waktu lalu.

Tahun lalu, ketika kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami perlambatan yakni hanya tumbuh 0,98 persen, saham Unilever pun seakan tidak terpengaruh. Sepanjang 2013 itu, harga saham Unilever justru tumbuh hingga 25 persen.

Sepanjang 2013, Unilever berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 5,3 triliun atau naik 10,6 persen dari tahun sebelumnya. Tahun ini, perusahaan diperkirakan mengalami pertumbuhan laba sekitar 15 persen menjadi Rp 6,15 triliun. Adapun rata-rata penjualan produknya meningkat sekitar 4-5 persen.

Reporter: Aria W. Yudhistira
Editor: Arsip
    News Alert

    Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

    Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
    Video Pilihan

    Artikel Terkait