Tinggi, Peluang Kenaikan Saham Batu Bara

Potensi kenaikan harga saham tiga emiten batu bara masih cukup tinggi Ketiganya adalah PT Bukit Asam Tbk PT Adaro Energy Tbk dan PT Indo Tambangraya Megah TbkBerdasarkan konsensus analis ratarata peluang kenaikan harga saham keti
Image title
Oleh
14 April 2014, 00:00
3418.jpg
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Potensi kenaikan harga saham tiga emiten batu bara masih cukup tinggi. Ketiganya adalah PT Bukit Asam Tbk, PT Adaro Energy Tbk, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk.

Berdasarkan konsensus analis, rata-rata peluang kenaikan harga saham ketiganya berkisar 13-23 persen. Potensi ini berkebalikan dari kinerja pada tahun lalu, di mana harga saham ketiga emiten tersebut tercatat turun sekitar 30 persen.

Bukit Asam merupakan emiten yang potensi kenaikannya paling tinggi, yakni hingga 23 persen dibandingkan harga penutupan pada akhir pekan lalu senilai Rp 9.700 per saham.

Kenaikan harga ini memang belum mengompensasi penurunan sepanjang tahun lalu yang turun hingga 29 persen, namun analis menyarankan untuk membeli saham emiten ini.

Advertisement

Dalam perhitungan analis, rata-rata harga saham emiten BUMN ini akan mencapai Rp 11.940 per saham dalam 12 bulan ke depan. Harga paling tinggi yang diprediksi analis adalah Rp 15.900 per saham.

Kemudian emiten yang juga disarankan analis untuk dikoleksi adalah Adaro Energy yang potensi kenaikannya sebesar 13 persen dibandingkan harga penutupan Jumat akhir pekan lalu Rp 1.010 per saham. Diprediksi harga rata-rata saham emiten berkode ADRO ini akan mencapai Rp 1.146 per saham dalam 12 bulan ke depan.  

Demikian pula dengan saham Indo Tambangraya yang memiliki potensi kenaikan sebesar 13 persen dari harga penutupan sebelumnya Rp 25.400 per saham. Analis memprediksi harga rata-rata saham berkode ITMG tersebut Rp 28.793 per saham.

Adapun harga tertinggi yang diproyeksikan analis adalah Rp 37.000 per saham, sedangkan yang terendah Rp 21.000 per saham.

Tahun lalu, saham ketiga emiten tersebut mencatatkan penurunan yang signifikan seiring dengan melemahnya harga komoditas batu bara. Adaro Energy tercatat turun hingga 31 persen, sedangkan Indo Tambangraya turun hingga 27 persen.

Andy Wibowo Gunawan, analis Sucorinvest, menyebutkan harga batu bara pada tahun ini berpotensi meningkat seiring dengan naiknya harga minyak mentah. Menurutnya, harga batu bara berkorelasi erat dengan harga minyak. Biasanya, kata dia, selisih antara harga minyak dengan batu bara berkisar 17-25 persen.  

?Kami memprediksi harga minyak jenis brent pada 2014 dan 2015 akan berkisar US$ 111,7 per barel dan US$ 112,7 per barel. Oleh karena itu, harga batu bara diperkirakan US$ 85,5 per ton dan US$ 86,5 per ton,? kata Andy dalam risetnya beberapa waktu lalu.

Menurut dia, sejumlah emiten telah siap untuk melakukan diversifikasi untuk mengatasi permintaan yang menurun. Selain Indo Tambangraya yang tengah membangun pembangkit listrik, PTBA dan Adaro sudah membangun pembangkit listrik. ?Pembangunan power plant memang butuh waktu 1-2 tahun, jadi dampaknya akan terasa pada jangka panjang,? ujarnya.

Sementara Fajar Indra, analis Panin Sekuritas, yang menilai harga saham PTBA saat ini sudah sangat murah. ?Kami perkirakan volume penjualan PTBA akan mencapai puncaknya pada paruh kedua 2014,? kata dia. ?Ini seiring penyelesaian fasilitas bongkar muat di Pelabuhan Tarahan.?

Reporter: Aria W. Yudhistira
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait