Permintaan Suntikan Bank Century Kerap Ditolak BI

KATADATA Sebelum Bank Indonesia BI mengucurkan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek FPJP Bank Century telah berkalikali meminta kucuran pendanaan Namun BI selalu menolak permintaan itu karena tidak memenuhi persyaratanHal itu terungkap dal
Image title
Oleh
6 Maret 2014, 00:00
3208.jpg
Arief Kamaludin | KATADATA
KATADATA | Agung Samosir
KATADATA ? Sebelum Bank Indonesia (BI) mengucurkan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP), Bank Century telah berkali-kali meminta kucuran pendanaan. Namun BI selalu menolak permintaan itu karena tidak memenuhi persyaratan.

Hal itu terungkap dalam surat dakwaan dalam sidang kasus Bank Century atas terdakwa mantan Deputi Gubernur BI Budi Mulya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Kamis (6/3).

Permintaan pertama disampaikan oleh Robert Tantular, pemegang saham Bank Century, dan Hermanus Hasan Muslim, Direktur Utama Bank Century, kepada Deputi Gubernur BI Siti Chalimah Fadrijah pada 12 Oktober 2008. Dalam pertemuan di BI itu manajemen menyampaikan pihaknya tengah mengalami kesulitan likuiditas dan meminta BI memberikan bantuan.

?Anda kan masih mempunyai surat surat berharga yang lancar dan itu dipakai untuk memenuhi kebutuhan likuiditas dahulu yaitu US$ 10 juta,? kata Fadjriah menanggapi permintaan tersebut.

Robert lalu meminta kepada Siti Fadjrijah untuk memberikan rekomendasi kepada bank lain agar membantu Bank Century melalui pinjaman antarbank. Fadjriah ketika itu menjawab akan mencoba agar bank lain memberikan line kredit kepada Bank Century. Namun realisasinya tidak ada bank lain yang memberikan pinjaman antarbank kepada Bank Century.

Advertisement

Permintaan bantuan likuiditas kedua disampaikan pada 29 Oktober 2008. Ketika itu Robert Tantular dan Hermanus kembali melakukan pertemuan dengan Direktur Direktorat Pengawasan Bank 1 Zaenal Abidin, serta Heru Kristiyana, Pahla Sentosa dan Galoeh Andita Widorini dari BI.

Bank Century menyampaikan adanya tekanan likuiditas yang yang disebabkan simpanan berjangka nasabah dalam jumlah besar yang akan dicairkan. Di antaranya dari Yayasan Pensiun Bank Rakyat Indonesia sebesar Rp 25 miliar dan Yayasan Kesejahteraan Karyawan BI sebesar Rp 20 miliar.

Sementara Bank Century tak memiliki dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nasabah itu. Robert Tantular meminta kembali bantuan likuiditas dengan mengajukan permohonan FPJP kepada BI dengan agunan aset kredit lancar Bank Century karena bank tersebut tak memiliki Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Namun permintaan itu ditolak oleh Zainal Abidin dengan pertimbangan rasio kecukupan modal (CAR) Bank Century di bawah 8 persen. Alasannya belum terdapat ketentuan mengenai pemberian FPJP dengan jaminan aset kredit, sehingga pemilik Bank Century wajib mengatasi kesulitan likuiditas tersebut.

Bersamaan dengan pengajuan permohonan FPJP tersebut, sedang dilakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang membahas pengikatan agunan berupa aset kredit dalam rangka pemberian FPJP bagi bank umum. RDG menetapkan Peraturan BI No 10/26/PBI/2008 tentang FPJP bagi Bank Umum yang mulai diberlakukan pada 29 Oktober 2008.

Dalam PBI itu mengatur bank yang memperoleh FPJP harus memiliki CAR sebesar 8 persen dan aset kredit yang dapat dijadikan agunan memenuhi kriteria kolektibilitas lancar selama 12 bulan terakhir.

Melihat kondisi Bank Century yang kekurangan modal dengan CAR di bawah 8 persen, Zainal Abidin membuat usulan kepada Boediono dan Siti Fadjrijah mengenai penetapan status pengawasan Bank Century dalam pengawasan khusus.

Dalam kondisi kekurangan modal, pada 30 Oktober 2008 Bank Century mengajukan permohonan fasilitas repo aset ke BI. Fasilitas repo aset kredit itu terdiri 30 debitor dengan total outstanding Rp 1,778 triliun untuk mendapatkan plafon kredit Rp 1 triliun.

Fasilitas itu akan digunakan di antaranya sebagai bridging sebelum penerimaan dana pembayaran Surat Berharga Valas yang akan jatuh tempo, sebesar US$ 11 juta. Permohonan FPJP itu kembali ditolak dengan alasan bank tergolong insolvent dan posisi CAR pada September 2008 sebesar 2,02 persen.

Sesudah ditolak, tak lama kemudian Deputi Gubernur Miranda S Goeltom memanggil Zainal Abidin dan Heru Kristiyana. ?Ada apa dengan Bank Century?? kata Miranda.

Dijawab Heru, Bank Century tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan FPJP dan BI meminta Robert Tantular untuk mengatasi masalah likuiditasnya.

Atas penyampaian Heru itu, Miranda Goeltom mengatakan, ?Mengapa Bank Century tak diberikan FPJP. Anda itu tidak bisa menilai situasi sekarang yang lagi krisis di mana bank-bank mengalami kesulitan likuiditas karena krisis global,? kata Miranda dalam surat dakwaan. ?Anda sebagai pengawas harus bisa berpikir out of the box.?

Pada 31 Oktober 2008, Siti Fadjriah membuat disposisi yang menyatakan ?Sesuai pesan GBI tanggal 31/10 masalah Bank Century harus dibantu, dan tidak ada bank yang gagal untuk saat ini. Karena bila hal ini terjadi akan memperburuk perbankan dan perekonomian kita.? Namun pada saat itu Bank Century tetap belum bisa mendapatkan FPJP karena CAR di bawah 8 persen.

Dalam RDG 5 November 2008, Bank Century ditetapkan masuk dalam pengawasan khusus atau special surveillance. Dengan status tersebut, maka kegiatan operasional bank itu berada di bawah Bank Indonesia dan semua tindakan yang dilakukan Bank Century harus dilaporkan dan mendapatkan izin dari BI.

Dalam RDG pada 12 November 2008, Dewan Gubernur dan Direktorat Pengawasan Bank 1 membahas mengenai alternatif penambahan modal yang diperlukan untuk penyelamatan Bank Century. Pertama atau yang paling konservatif Bank Century membutuhkan tambahan modal Rp 2,9 triliun untuk mencapai CAR 8 persen. Kedua membutuhkan tambahan Rp 325 miliar.

Pada tanggal yang sama, Robert Tantular menemui Budi Mulya dan menyampakan bahwa prefund Bank Century untuk tanggal 13 November 2013 masih kurang Rp 35 miliar, dan sudah mendapat pinjaman dari Bank Sinar Mas Rp 30 miliar sehingga masih kurang Rp 5 miliar.

Budi Mulya lalu menghubungi Siti Fadjrijah melalui telepon dan menyampakan masalah likuiditas yang dialami Bank Century.

Pada tanggal 13 November 2008, Bank Century tak bisa ikut kliring karena kekurangan prefund sebesar Rp 5 miliar. Akibatnya terjadi penarikan dana nasabah besar-besaran dan menyebabkan likuiditas semakin memburuk.

Dewan Gubernur juga mengadakan RDG pada tanggal itu untuk membahas Bank Century. Dalam rapat itu Zainal Abidin menjelaskan alternatif yang bisa diberikan untuk menyelamatkan Bank Century yaitu memberikan Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD) atau Bank Century dinyatakan bank gagal diserahkan ke Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Zaenal juga menyampaikan jika Bank Century diputuskan tetap beroperasi maka memerlukan dana sangat besar mininal Rp 6-7 triliun, dan hal itu tidak mungkin karena tidak ada skema maupun ketentuan yang mendasari keputusan tersebut.

Pemberian FPJP juga tidak bisa dilakukan karena CAR Bank Century per September 2008 hanya sebesar 2,35 persen, dan tidak memenuhi persyaratan sesuai dengan yang diatur dalam PBI No 10/26/PBI/2008 tentang FPJP. Agar mendapatkan FPJP, maka ketentuan FPJP harus diubah terlebih dahulu.

Rapat yang berlangsung hingga malam itu lalu memutuskan persyaratan CAR untuk mendapatkan FPJP diubah menjadi CAR positif. Bank Century lalu disetujui diberikan FPJP. Dasar peraturan tersebut yang membuat Bank Century bisa menerima FPJP hingga Rp 689 miliar.

Reporter: Nur Farida Ahniar
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait