Kemana CPO Fund Mengalir?

Dana Pungutan CPO Fund akan langsung digunakan sebagai insentif tanpa terlebih dahulu tercatat sebagi penerimaan APBN
Image title
Oleh
24 Juli 2015, 18:48

KATADATA ? Pemerintah telah memberlakukan pungutan ekspor bagi pelaku usaha perkebunan kelapa sawit sejak 16 Juli lalu sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2015. Kebijakan ini merupakan upaya menjamin keberlangsungan industri sawit dalam negeri yang didera harga rendah akibat rendahnya permintaan global.

Besar pungutan sebesar US$ 50 per ton bagi ekspor crude palm oil (CPO) mentah serta US$ 30 per ton bagi produk turunanya. Selain itu, ada pula bea keluar sebesar 7,5 persen bila harga CPO berada di atas US$ 750 per ton. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil, bila harga CPO Internasional di bawah US$ 750 per ton, maka Bea Keluar ditiadakan.

Sofyan menyatakan bahwa dana pungutan ini disimpan dalam rekening tersendiri dan tidak tercatat sebagai penerimaan negara dalam APBN. Sebab akan langsung digunakan sebagai insentif bagi pengembangan industri kelapa sawit. 

Dana pungutan dikelola oleh empat bank besar yang ditunjuk pemerintah. Empat bank tersebut terdiri dari tiga Bank Usaha Milik Negara (BUMN) dan satu bank swasta, yakni Bank Central Asia (BCA). Alasan ditunjuknya keempat bank ini menurut Sofyan, karena memiliki jaringan kerja yang lebih luas dibandingkan dengan perbankan lainya.

 

Reporter: Leafy Anjangi
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.