"Sim Salabim" Harga Impor BBM

Tim Reformasi Tata Kelola Migas menemukan indikasi praktek bisnis impor bahan bakar minyak yang tidak sehat Menurut Ketua Tim Reformasi Faisal Basri mengatakan harga patokan yang dibuat untuk impor didasarkan pada tolok ukur yang tidak jelas
Image title
Oleh
23 Desember 2014, 17:55

KATADATA ? Tim Reformasi Tata Kelola Migas menemukan indikasi praktek bisnis impor bahan bakar minyak yang tidak sehat. Ketua Tim Reformasi, Faisal Basri, mengatakan harga patokan yang dibuat untuk impor didasarkan pada tolok ukur yang tidak jelas. Hal ini disebabkan tidak adanya patokan harga untuk BBM RON 88 yang diimpor Indonesia. 

(Baca : Celah Permainan Mafia Migas)

Menurut Tim Reformasi, RON 88 merupakan barang langka karena banyak negara yang lebih memilih bahan bakar beroktan lebih tinggi karena lebih ramah lingkungan. Di Asia Tenggara, Indonesia adalah satu-satunya negara Asia Tenggara yang memakai RON 88. Hal ini membuat tiadanya kutipan harga RON 88 di bursa Singapura yang menjadi patokan impor.

Faisal mengatakan, tanpa tolok ukur itu, harga indeks pasar (HIP) untuk kedua jenis BBM tersebut dihitung berdasarkan harga MOPS untuk jenis bahan bakar yang spesifikasinya paling mendekati. Lebih lanjut, faktor pengali dalam formula perhitungan HIP didasarkan data jadul (Januari 2004 ? Desember 2006) sehingga tidak mencerminkan kondisi terkini.

Oleh sebab itu, Tim Reformasi meminta pemerintah menghentikan impor RON 88 tahun depan. Sebagai gantinya adalah impor RON 92, sehingga tolok ukur harga menjadi jelas dan transparan. Dengan demikian, tertutup celah bagi mafia migas untuk bermain dalam penentuan harga impor.

Reporter: Agus Dwi Darmawan
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.