Ketahanan Pangan Era Jokowi Terancam

Petani tanaman pangan berkurang dan beralih ke tanaman yang lebih menguntungkan seperti Kelapa Sawit Karet dan Kakao
Image title
Oleh
8 September 2014, 18:19

KATADATA ? Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan jumlah petani pangan seperti Padi, Jagung dan Kedelai sejak 2003 dan beralih ke tanaman yang lebih kompetitif. Petani tanaman pangan berkurang dan beralih ke tanaman lain seperti Kelapa Sawit, Karet dan Kakao. Akibatnya, produksi pangan kian berkurang dan kalah bersaing dengan produk impor.

Data BPS mencatat NTP (Nilai Tukar Petani) per Agustus 2014 berada di level 102,6. Ini merupakan level NTP terendah dalam 4 tahun terakhir. NTP diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap harga yang dibayar oleh mereka. NTP di bawah 100 menandakan harga yang diterima petani lebih rendah dibandingkan yang dibayar. Saat ini, petani hanya mendapatkan sedikit kelebihan dari penghasilan di sektor pertanian. Ini mengindikasikan daya beli dan kesejahteraan petani menurun.

Turunnya NTP juga disebabkan oleh faktor konversi lahan pertanian dan alih profesi petani ke bidang lain. Ini terlihat dari indeks sumber pendapatan rumah tangga miskin dari 58 persen pada 2010 menjadi 56 persen pada 2012. Sementara tingkat pengangguran justru naik 3 persen dan bekerja di sektor lain naik 2 persen.

Jika tren ini terus berlanjut, maka ketahanan pangan nasional akan semakin terancam. Ini menjadi tugas berat pemerintah baru Jokowi-Jusuf Kalla mewujudkan komitmen seperti yang dijanjikan selama masa kampanye untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.  

Reporter: Muhammad Kahfi
Editor: Arsip
    News Alert

    Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

    Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.