Ukraina Inginkan Pertemuan Zelensky dan Putin

Ukraina optimistis pertemuan antara Zelensky dengan Putin adalah jalan menuju terwujudnya perdamaian.
Image title
14 Maret 2022, 11:35
Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri upacara pengibaran bendera di feri Marshal Rokossovsky melalui tautan video di kediamannya di luar Moskow, Rusia, Jumat (4/3/2022).
ANTARA FOTO/REUTERS/Sputnik/Alexey Nikolsky/Kremlin /rwa/sad.
Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri upacara pengibaran bendera di feri Marshal Rokossovsky melalui tautan video di kediamannya di luar Moskow, Rusia, Jumat (4/3/2022).

 

Perwakilan Ukraina dan Rusia rencananya akan melanjutkan upaya diplomatik untuk menyelesaikan perang, melalui pertemuan video pada Senin (14/3). Dilansir dari Reuters, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengatakan delegasi Ukraina akan melakukan segala upaya agar dapat membuat pertemuan dengan Presidan Rusia Vladimir Putin.

"Jelas ini adalah kisah yang sulit. Jalan yang keras. Tapi jalan ini dibutuhkan. Dan tujuan kami adalah agar Ukraina mendapatkan hasil yang diperlukan dalam perjuangan ini, dalam negosiasi tersebut. Terutama penting untuk perdamaian, dan untuk keamanan." ujar Zelensky.

Pejabat Ukraina optimistis bahwa pertemuan antara Zelensky dan Putin adalah jalan menuju terwujudnya perdamaian Ukraina dan Rusia. Pihak Ukraina sebelumnya telah berulang kali meminta agar Zelensky dan Putin dapat melakukan pembicaraan 'empat mata'. 

Advertisement

Sementara pihak Rusia meski pernah menyebut tidak akan menolak agenda pertemuan antara Zelensky dan Putin untuk membahas isu yang 'spesifik', tetapi belum ada tindak lanjut mengenai persoalan ini.

"Rusia sudah mulai berbicara secara konstruktif," kata juru runding dari delegasi Ukraina Mykhailo Podolyak, dalam sebuah video online yang dikutip Reuters. Ia pun optimistis akan ada hasil positif dari pertemuan ini dalam beberapa hari ke depan. 

Seorang delegasi Rusia untuk perundingan tersebut, Leonid Slutsky, seperti dikutip kantor berita RIA, mengatakan bahwa mereka telah membuat kemajuan yang signifikan dan ada kemungkinan para delegasi dapat segera mencapai rancangan kesepakatan.

Meski belakangan muncul banyak pernyataan optimisme terkait proses negosiasi, hingga saat ini belum ada hasil positif yang didapatkan dari beberapa kali pertemuan di antara perwakilan kedua belah pihak. Pada pertemuan terakhir yang dilaksanakan di Belarusia, Senin pekan lalu (7/3), para delegasi memfokuskan pembicaraan pada isu-isu mengenai kemanusiaan. Hasil dari pertemuan tersebut akhirnya memungkinkan dibukanya beberapa koridor evakuasi bagi warga sipil.

Meski menginginkan negosiasi, Ukraina menegaskan tidak akan menyerah dalam konflik perang yang dimulai 24 Februari 2022 ini. Sebab, perang telah menimbulkan ribuan korban jiwa, dan mengakibatkan sekitar 2,5 juta penduduk Ukraina mengungsi sejak dimulainya perang.

Jumlah pengungsi Ukraina, sejak Rusia melancarkan invasi, kini berjumlah lebih dari 2,5 juta orang. Akibatnya sejumlah kota di kawasan Eropa timur, yang letaknya lebih dengan Ukraina, kini kehabisan akomodasi. Lebih dari 270.300 orang telah menyeberang ke Moldova dari Ukraina dan sekitar 105.000 di antaranya menetap di sana. Negara-negara Barat pun turut mengulurkan tangannya untuk membantu persoalan pengungsi.

Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock, menyebut Jerman akan menjemput 2.500 pengungsi Ukraina dari Moldova, pada Sabtu (12/3). Upaya tersebut dilakukan saat negara-negara di kawasan Eropa timur tengah kewalahan membantu pengungsi.

Baerbock menyatakan, Jerman berkomitmen untuk membantu negara-negara tetangga Ukraina mengurus pengungsi. Sebuah koridor akan dibangun via Romania untuk mengantarkan para pengungsi ke Jerman, sebagian besar dengan bus. "Eropa dan negara kami berdiri bersama dalam solidaritas dengan Anda, kami akan menampung pengungsi dari Anda," kata Baerbock usai pertemuan dengan mitranya dari Moldovan di Kishinau.

Sejauh ini, pengungsi yang terdaftar di Jerman berjumlah 109.183 orang, kata kementerian dalam negeri Jerman, Jumat (11/3). Masyarakat Jerman telah menawarkan 300 ribu rumah pribadi untuk menampung para pengungsi.

Selain Jerman, Pemerintah Inggris juga mengumumkan akan membayar warganya sebesar 350 poundsterling atau setara Rp 6,5 juta per bulan, bagi warganya yang menampung pengungsi dari Ukraina. 

Skema baru itu disebut sebagai "Rumah untuk Ukraina", di mana pemerintah Inggris akan membiarkan pengungsi perang Ukraina datang dan menetap, meski tak memiliki ikatan keluarga. Melansir Reuters, pada Minggu (13/3) pemerintah Inggris menyatakan akan membayar warganya yang dapat menawarkan pengungsi Ukraina kamar, atau properti cadangan untuk jangka waktu minimal enam bulan.

Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan lalu menyatakan, jumlah pengungsi yang pergi dari Ukraina diperkirakan meningkat menjadi lebih dari 4 juta penduduk, atau dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya yang mencapai 2 juta. 

Sementara itu, dari garis depan pertempuran dilaporkan serangan Rusia terhadap Ukraina terus berlanjut. Pada Minggu (13/3), serangkaian rudal Rusia menghantam pangkalan Ukraina yang terletak di dekat perbatasan Polandia. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 35 orang dan 134 mengalami luka-luka.

 

Reporter: Nuhansa Mikrefin
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait