Korea Utara Konfirmasi Kematian Pertama Akibat Covid-19

Otoritas Korea Utara melaporkan 350.000 warga mengalami demam, dan 187.800 warga tengah menjalani perawatan di ruang isolasi.
Image title
13 Mei 2022, 12:04
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menghadiri Pertemuan ke-20 Biro Politik Komite Sentral ke-7 Partai Buruh Korea (WPK), di Pyongyang, Korea Utara, dalam foto tidak bertanggal yang disiarkan oleh Pusat Agensi Berita Korea Utara (KCNA), Senin (16/11/2020).
ANTARA FOTO/REUTERS/KCNA /hp/cf
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menghadiri Pertemuan ke-20 Biro Politik Komite Sentral ke-7 Partai Buruh Korea (WPK), di Pyongyang, Korea Utara, dalam foto tidak bertanggal yang disiarkan oleh Pusat Agensi Berita Korea Utara (KCNA), Senin (16/11/2020).

Korea Utara mengkonfirmasi adanya satu warga yang positif tertular varian Omicron dari Covid-19, telah meninggal dunia. Di samping itu, terdapat enam warga lain juga meninggal dunia dengan menunjukkan gejala demam.

Kantor Berita KCNA melaporkan sekitar 187.800 orang tengah menjalani perawatan di ruang isolasi setelah mengalami demam. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa gejala demam kini menyebar secara nasional sejak akhir April, dan belum diketahui sumbernya.

Sejauh ini 350.000 warga Korea Utara juga dilaporkan menunjukkan tanda-tanda demam, termasuk 18.000 kasus baru pada Kamis, sebut KCNA tanpa merinci jumlah yang dinyatakan positif COVID-19.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah mengunjungi pusat komando anti-virus pada Kamis (12/5) untuk memeriksa situasi dan memberikan tanggapan setelah menyatakan "Keadaan darurat paling parah." Selain itu, memerintahkan lockdown secara nasional, tulis media pemerintah sebagaimana dikutip Reuters.

Advertisement

Korea Utara mengatakan wabah itu dimulai di ibu kota Pyongyang pada April. Media pemerintah tidak merinci penyebab wabah itu, tetapi kota itu menyelenggarakan beberapa acara publik besar-besaran pada 15 dan 25 April. Salah satunya adalah parade militer dan pertemuan besar dengan banyak orang tak memakai masker.

Kim, yang menghadiri beberapa acara itu, “Mengkritik bahwa penyebaran demam secara simultan dengan wilayah ibu kota sebagai pusatnya menunjukkan bahwa ada titik rentan dalam sistem pencegahan epidemi yang telah kita buat,” tulis KCNA.

Kim menyebut proses isolasi dan merawat mereka yang demam menjad prioritas utama, sambil menyerukan metode dan taktik perawatan ilmiah "dengan tempo kilat" dan memperkuat langkah-langkah untuk memasok obat-obatan.

Sementara itu, para pakar kesehatan dari Harvard Medical School, Kee Park, yang telah bekerja pada proyek perawatan kesehatan di Korea Utara, menyebut negara itu telah menguji sekitar 1.400 orang setiap minggu. Jumlah tersebut dinilai masih kurang untuk mensurvei 350 ribu orang dengan gejala.

“Menggunakan tingkat kematian kasus konservatif 1% dan dengan asumsi lonjakan itu disebabkan oleh varian Omicron dari COVID-19, Korea Utara dapat memperkirakan 3.500 kematian akibat wabah ini,” jelasnya.

Dalam laporan lain, KCNA mengatakan otoritas kesehatan berusaha mengatur sistem pengujian dan perawatan serta meningkatkan upaya pencegahan penularan.

Sejauh ini, Korea Utara belum meminta bantuan internasional untuk vaksinasi dan tetap menutup perbatasannya.

Reporter: Aryo Widhy Wicaksono
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait