Rusia Nyatakan Kuasai Seluruh Wilayah Timur Ukraina

Rusia sebelumnya juga menyatakan pasukannya telah merebut desa-desa di sekitar Lysychansk dan mengepung kota tersebut.
Aryo Widhy Wicaksono
3 Juli 2022, 20:52
Alexander Ermochenko Anggota layanan pasukan pro-Rusia berjalan di sepanjang jalan di kota pelabuhan selatan Mariupol, Ukraina, Selasa (17/5/2022).
ANTARA FOTO/RUTERS/Alexander Ermochenko/aww/sad.
Alexander Ermochenko Anggota layanan pasukan pro-Rusia berjalan di sepanjang jalan di kota pelabuhan selatan Mariupol, Ukraina, Selasa (17/5/2022).

Rusia mengumumkan pasukannya telah menguasai kawasan timur Ukraina, setelah berhasil merebut Lysychansk, kota terakhir di wilayah Luhansk yang masih memberikan perlawanan sengit.

Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, seperti dikutip Reuters, memberi tahu Presiden Vladimir Putin bahwa Luhansk telah "dibebaskan". Rusia sebelumnya juga menyatakan pasukannya telah merebut desa-desa di sekitar Lysychansk dan mengepung kota tersebut.

Setelah mendapatkan perlawanan sengit dari Ukraina untuk mencegah Rusia merebut Ibu Kota Kyiv, Rusia memfokuskan strategi serangan ke kawasan timur Ukraina, dan mengambil kendali penuh atas provinsi Luhansk dan Donetsk di wilayah Donbas.

“Hari ini, milisi populer Luhansk dan pasukan Rusia menduduki target strategis terakhir, yang memungkinkan kami untuk memastikan bahwa Lysychansk benar-benar dikepung,” ujar juru bicara pasukan separatis, Andrei Marotchko, mengatakan kepada kantor berita TASS, seperti diktuip Al Jazeera, Minggu (3/7).

Advertisement

Akan tetapi, pasukan Ukraina menolak klaim tersebut, dan mengatakan pertempuran sengit masih berlangsung di Lysychansk.

“Pertempuran berkecamuk di sekitar Lysychansk. (Tapi) untungnya kota itu tidak dikepung dan berada di bawah kendali tentara Ukraina,” kata Ruslan Muzytchuk, juru bicara Garda Nasional Ukraina.

Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina menyatakan angkatan udaranya menerbangkan sekitar 15 serangan mendadak "ke hampir semua arah wilayah musuh", menghancurkan peralatan dan dua gudang amunisi. Sementara Kementerian pertahanan Rusia mengatakan angkatan udaranya telah menghancurkan lima pos komando Ukraina dan beberapa tempat pembuangan amunisi.

Akan tetapi, kedua laporan tersebut belum dapat terverifikasi secara independen oleh Reuters.

Sebelumnya pada Sabtu (2/7), Presiden Belarusia Alexander Lukashenko, juga menyatakan pertahanan udara negaranya telah menembak jatuh rudal Ukraina, meskipun dia tidak merinci di daerah mana. Alexander merupakan sekutu dekat Rusia dan mengizinkan pasukan Rusia menyerang dari Belarusia pada Februari lalu.

"Mereka memprovokasi kami. Tiga hari lalu, mungkin sedikit lebih, upaya untuk menyerang fasilitas militer di wilayah Belarusia dilakukan dari wilayah Ukraina," katanya seperti dikutip BBC Internasional. "Tapi, syukurlah, sistem antipesawat Pantsir berhasil mencegat semua rudal." 

Dia menambahkan bahwa, "kami tidak berusaha untuk berperang di Ukraina," jelasnya.

Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) mencatat sejak awal invasi Rusia pada 24 Feruari hingga Senin (27/6), tercatat korban akibat perang di Ukraina mencapai 10.631 korban sipil, jumlah ini meliputi: 4.731 korban tewas, dan 5.900 terluka. 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait