Bisnis Lesu, Saham Astra Terperosok

Penulis:

Editor:

8/5/2013, 17.09 WIB

Kinerja saham PT Astra International Tbk ASII terus bergejolak dan melemah bahkan sempat menyentuh titik terendah di level 6900

astra-otoparts-industri-mobil.jpg

KATADATA ? Kinerja saham PT Astra International Tbk (ASII) terus bergejolak dan cenderung melemah akhir-akhir ini. Bahkan, saham Astra sempat menyentuh titik terendah di level 6.900 pada 2 Mei lalu.

Pada Selasa, 7 Mei 2013, saham Astra sempat kembali sedikit menguat pada level 7.050. Namun, angka ini masih jauh di bawah titik tertinggi sebesar 8.300 pada 8 Maret 2013. Artinya, saham grup bisnis otomotif terkemuka di Indonesia sudah melemah hingga belasan persen dalam tempo sekitar dua bulan.

Menurunnya kinerja finansial perusahaan dianggap sebagai pemicu melemahnya saham Astra. Sepanjang triwulan I, pendapatan bersih grup Astra memang sedikit meningkat 1 persen menjadi Rp 46,7 triliun, namun laba bersih perseroan justru menurun 7 persen menjadi Rp 4,3 triliun. Bahkan, laba bersih divisi otomotif, penyumbang laba terbesar kelompok usaha, turun hingga 10 persen menjadi Rp 2,2 triliun.

Sejatinya, penjualan mobil PT Astra International Tbk (ASII) naik sebesar 7 persen sepanjang kuartal I 2013 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Total penjualan mobil Astra (Toyota, Daihatsu, Isuzu, UD Trucks dan Peugeot) mencapai 155 ribu unit atau 52 persen dari total pangsa pasar mobil nasional.

Dalam jangka pendek, keuntungan Astra akan dipengaruhi oleh kenaikan biaya tenaga kerja, melemahnya harga komoditas, persaingan industri otomotif serta kebijakan uang muka minimum pada pembiayaan syariah,? ujar Presiden Direktur PT Astra International, Prijono Sugiarto.

Tak bisa dimungkiri, laba bersih perusahaan dari segmen otomotif memang mengalami penurunan. Ini disebabkan oleh naiknya biaya tenaga kerja, serta persaingan di industri yang semakin ketat. Peraturan uang muka minimum pada pembiayaan otomotif syariah yang diberlakukan perusahaan pembiayaan sejak 1 Januari 2013, juga dinilai turut mempengaruhi.

Pemicu melambatnya kinerjanya Astra juga disebabkan oleh merosotnya kinerja divisi alat-alat berat dan pertambangan. Laba bersih divisi ini menurun hingga 26 persen. PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5 persen sahamnya dimiliki oleh perseroan, melaporkan penurunan laba bersih 26 persen menjadi Rp 1,1 triliun, sementara pendapatan bersihnya merosot sebesar 17 persen.

Sejumlah divisi lainnya juga mengalami penurunan kinerja. Seperti laba bersih divisi perkebunan menurun 6 persen menjadi Rp 0,3 triliun, sedangkan laba bersih divisi infrastruktur dan logistik melemah hingga 19 persen menjadi Rp 124 miliar.

Kendati beberapa divisi andalan Astra melemah, namun kelompok usaha masih memiliki tumpuan penopang pendapatan lainnya. Misalnya, dari segmen bisnis jasa keuangan, Astra mampu menghimpun laba bersih Rp 1 triliun. Itu bersumber dari usaha pembiayaan otomotif Astra, serta dari perbankan, yakni PT Bank Permata yang dikendalikan bersama dengan Standard Chartered Bank.

Reporter: Nur Farida Ahniar

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan