Peluang Besar di Industri Farmasi

Penulis:

Editor:

8/5/2013, 17.09 WIB

Kalangan pelaku optimistis bahwa industri farmasi akan tumbuh di atas 13 persen pada tahun ini dengan nilai transaksi sekitar US 54 miliar

farmasi
KATADATA
KATADATA

KATADATA ? Kalangan pelaku optimistis bahwa industri farmasi akan tumbuh di atas 13 persen pada tahun ini dengan nilai transaksi sekitar US$ 5,4 miliar. Mereka menilai pertumbuhan tersebut ditopang oleh pengoperasian Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mulai 1 Januari 2014, serta belanja kesehatan masyarakat yang terus meningkat.

Sebagai implementasi UU No 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), akan dibentuk dua BPJS, yakni BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Kedua badan tersebut merupakan reinkarnasi dari dua BUMN yang selama ini sudah menjalankan peranan penting, yakni PT Askes (Persero) dan PT Jamsostek. Askes akan berubah menjadi BPJS Kesehatan, sedangkan Jamsostek berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan dan mulai beroperasi paling lambat 1 Juli 2015.

Dengan keberadaan institusi baru ini, tingkat pelayanan kesehatan mengalami perubahan paradigma dari semula pelayanan berbasis fee for service atau out of pocket menuju ke managed care yang bertumpu prospective payment. Lewat layanan tersebut, diharapkan pada 1 Januari 2019, seluruh masyarakat Indonesia dapat di-cover oleh jaminan kesehatan.

"Sampai 2019 nanti pangsa pasar obat generik saja kami perkirakan volumenya bisa meningkat sampai tiga kali," kata Ketua Umum Gabungan Perusahaan Farmasi Johannes Setijono.

Direktur Jenderal Bina Farmasi dan Alat Kesehatan Maura Linda Sitanggang mengatakan pemerintah tengah fokus pada pembenahan infrastruktur kesehatan. Dengan berlakunya SJSN nanti, seluruh warga akan dijamin pelayanan kesehatan, tak terkecuali penduduk asing yang tinggal lebih dari 6 bulan di Indonesia. Pemerintah meng-cover iuran premi untuk warga miskin. Sementara, untuk warga pekerja informal yang gajinya tidak tetap, akan diatur oleh Pemerintah dan DPR sehingga diperkirakan baru bisa terealisasi penuh pada 2019.

"Pada 2014, BPJS diperkirakan sudah akan mengcover 86,4 juta warga Indonesia dengan total biaya Jamkesmas dan Jampersal kurang lebih Rp 7,4 triliun."

Selain pemberlakuan BPJS, pertumbuhan industri farmasi juga akan ditopang oleh kebijakan pemerintah dalam mendorong peningkatan belanja kesehatan. Mengacu pada Pasal 171 (1) UU 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, diamanatkan belanja pemerintah minimal harus 5 persen dari total anggaran negara.

Saat ini angka belanja kesehatan masyarakat Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) tergolong sangat rendah, apalagi bila dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Pada 2010,  persentase belanja kesehatan Indonesia hanya 2,6 persen PDB,  sedangkan belanja kesehatan Singapura mencapai 4,1 persen PDB, Filipina (3,6 persen), Thailand (3 persen) dan Malaysia (4,4 persen).

Potensi peningkatan belanja kesehatan juga akan didorong oleh jumlah penduduk Indonesia. Survei Badan Pusat Statistik 2000-2010 mengindikasikan pertambahan penduduk rata-rata 1,49 persen per tahun, dengan pertumbuhan paling cepat pertumbuhan pada usia produktif. Populasi Indonesia pada 2020 diperkirakan akan mencapai 275 juta dan 319 juta pada 2030. Proyeksi ini menjadikan pangsa pasar obat di Indonesia sangat potensial dan termasuk salah satu yang terbesar di dunia.

Menurut Data Kementerian Kesehatan 2012, jumlah perusahaan farmasi di Indonesia mencapai 206 perusahaan, sebanyak 39 di antaranya perusahaan multinasional. Rata-rata penjualan obat di tingkat nasional selalu tumbuh 12-13 persen setiap tahun dan lebih dari 70 persen total pasar obat di Indonesia dikuasai oleh perusahaan nasional. Namun, angka ketergantungan impor bahan baku obat masih sangat tinggi, bahkan 95-96 persen diimpor dari China, India, dan Eropa.

Pertumbuhan positif industri farmasi juga terekam dari performa perusahaan farmasi di bursa efek Indonesia. Pada 2012, sejumlah emiten menunjukkan kinerja cemerlang, seperti Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk yang mencatat margin usaha 44 persen, Kalbe Farma Tbk 16 persen dan Merck Tbk sebesar 15 persen.

Dari sisi kapitalisasi pasar, saham Kalbe Farma merupakan saham yang sangat likuid dengan kapitalisasi terbesar di industri farmasi sebesar Rp 72 triliun dan memiliki bobot indeks 1,4 persen. Tahun lalu laba bersih konsolidasi indikatif tercatat sebesar Rp 1,7 triliun meningkat 17 persen dibanding periode yang sama sebesar Rp 1,5 triliun. Nilai penjualan perusahaan mencapai Rp 13,6 triliun. Tahun ini perseroan menarget pertumbuhan laba bersih 15-16 persen.

Reporter: Agus Dwi Darmawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan