56 Saham Pilihan Favorit di Bursa Indonesia

Penulis:

Editor:

13/5/2013, 17.09 WIB

Sebanyak 56 emiten termasuk dalam kategori pilihan favorit bagi investor di pasar modal Indonesia sepanjang pekan kedua Mei 2013

bursa saham
Agung Samosir|KATADATA
KATADATA

KATADATA ? Sebanyak 56 emiten termasuk dalam kategori pilihan favorit bagi investor di pasar modal Indonesia sepanjang pekan kedua Mei 2013.

Hasil studi KATADATA Indonesia menunjukkan ke-56 emiten tersebut merupakan emiten yang perlu dicermati oleh pelaku pasar mengacu pada likuiditas dan kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia. Ke-56 perusahaan tersebut, masuk dalam kategori ?Must?, mengacu pada sistem pengkategorian emiten yang dikembangkan oleh analis senior pasar modal dan juga Founder Independent Research and Advisory Indonesia (IRAI), Lin Che Wei.

Lin Che Wei menggunakan sistem MSCAW, kepanjangan dari Must, Should, Can, Won?t dan Avoid. ?Must? berarti harus atau wajib dicermati, ?Should? juga seharusnya diperhatikan. ?Can? berarti bisa dipantau, sedangkan ?Avoid? dan ?Won?t? merupakan saham yang patut dihindari.

Pendekatan ?Must? merupakan saham yang harus dicermati lantaran emiten kategori ini memiliki tingkat likuiditas yang tinggi dalam transaksi 20 hari kerja. Pada awal pekan ini saham Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) adalah emiten dengan rata-rata nilai perdagangan tertinggi mencapai Rp 338 miliar, mengalahkan saham Astra International Tbk (ASII) yang mencatatkan kapitalisasi terbesar sepanjang tiga pekan dengan nilai Rp 281 triliun.

Perbankan dan retail merupakan dua sektor dengan jumlah emiten paling banyak mendominasi kategori Must. Saham dari kelompok perbankan menduduki peringkat teratas dengan bobot 18,8 persen dengan jumlah tujuh emiten, sedang tujuh emiten retail hanya memiliki bobot 7,8 persen terhadap total nilai kapitalisasi saham.

Tujuh emiten perbankan yang masuk kategori ini adalah Bank Central Asia, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, Bank Danamon Indonesia, Bank Tabungan Negara, serta Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat Dan Banten. Sedangkan emiten retail yang termasuk kategori tersebut adalah Astra International, Matahari Department Store, Ace Hardware Indonesia, Indomobil Sukses Internasional, Mitra Adiperkasa, Matahari Putra Prima, dan Ramayana Lestari Sentosa.

Dari sisi kinerja, emiten teratas dengan profit margin tertinggi pada tahun buku 2012 adalah Tower Bersama Infrastructure dan Alam Sutera Reality dengan nilai profit marjin sebesar 49 persen. Kemudian diikuti oleh Bank Central Asia, Bank Rakyat Indonesia dan Bank Mandiri yang masing-masing mampu meraih profit marjin sebesar 43 persen, 42 persen dan 37 persen.

Dengan perolehan laba bersih sebesar Rp 11,7 triliun pada tahun lalu, BCA mampu mempertahankan kinerja pada triwulan pertama 2013. Laba bersih per Maret tahun ini mencapai Rp 2,9 triliun atau tumbuh 25,5 persen. Nilai kredit komersial dan UKM pada periode yang sama tumbuh signifikan hingga 30,2 persen dengan nilai Rp 105,7 triliun. "Secara umum, penyaluran kredit kami di semua segmen tumbuh dengan baik," kata Predisen Direktur BCA Jahja Setiaatmadja.



Bank Mandiri pada tahun lalu mampu membukukan laba bersih Rp 15,5 triliun. Pada kuartal pertama 2013, juga mampu mendongkrak kinerja dengan meraih laba bersih Rp 4,3 triliun atau naik 26,4 persen dari periode yang sama pada 2012. Manajemen menyebutkan pertumbuhan penyaluran kredit tahun ini akan disumbang oleh penyaluran kredit mikro.

Akan halnya di sektor retail, Astra International membukukan laba bersih sebesar Rp 19,4 triliun tahun lalu ditopang oleh nilai penjualan mobil. ?Kinerja Grup Astra yang baik ini terutama didukung oleh tingginya penjualan mobil, yang membuat Astra kembali mencatat rekor baru laba bersih dan nilai bersih aset per saham," kata Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto.

Meski demikian pada kuartal pertama 2013 ini kinerja Astra sempat menurun dibandingkan periode yang sama. Ditengah keyakinan prospek ekonomi Indonesia positif, dalam jangka pendek keuntungan Astra akan dipengaruhi oleh kenaikan biaya tenaga kerja, melemahnya harga komoditas, persaingan di industri otomotif serta dampak dari peraturan uang muka minimum pada pembiayaan otomotif syariah. Tercatat dalam laporan keuangan perusahaan sepanjang kuartal pertama ini laba bersih divisi otomotif turun sebesar 10 persen menjadi Rp 2,2 triliun.

Reporter: Agus Dwi Darmawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan