Batasan Uang Muka, Pangkas Penyaluran Kredit

Penulis:

Editor:

14/5/2013, 11.11 WIB

Kebijakan batas minimum uang muka kredit kendaraan bermotor telah berdampak pada penyaluran kredit Adira

bursa saham
Agung Samosir|KATADATA
KATADATA

KATADATA ? Kebijakan batas minimum uang muka (down payment/DP) bagi kredit kendaraan bermotor yang diterapkan Bank Indonesia sejak awal tahun ini telah berdampak pada penyaluran kredit PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF).

Pada kuartal I-2013, nilai pembiayaan yang disalurkan emiten di sektor consumer loan tersebut menurun dari Rp 7,9 triliun pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 7 triliun. Selama periode tersebut, ADMF menyalurkan kredit sepeda motor sebanyak 373 ribu unit senilai Rp 3,8 triliun, turun dari 449 ribu unit senilai Rp 4,8 triliun pada kuartal I-2012. Namun penyaluran kredit mobil meningkat dari Rp 3,1 triliun menjadi Rp 3,1 triliun.

Perkembangan tersebut sekaligus menunjukkan adanya perubahan portofolio perseroan. Proporsi pembiayaan sepeda motor pada kuartal I-2012 mencapai 60 persen, namun pada periode yang sama tahun ini menurun menjadi 55 persen.  Sebaliknya, proporsi pembiayaan kendaraan roda empat atau mobil justru meningkat dari 40 persen menjadi 45 persen.

Adapun total piutang pembiayaan konsumen yang dikelola perseroan mencapai Rp 45,1 triliun naik 6 persen dari kuartal I tahun lalu.

Hingga kuartal I-2013, perseroan berhasil membukukan pendapatan Rp 1,9 triliun naik 21 persen dari posisi tahun lalu. Namun laba bersih perseroan justru turun 7 persen dari Rp 362 miliar menjadi Rp 336 miliar. Penurunan laba disebabkan kenaikan jumlah beban hingga 33 persen menjadi Rp 1,4 triliun.

Penurunan juga terjadi pada imbal hasil atas jumlah aktiva (RoA) perseroan dari 10,7 persen menjadi 5,8 persen. Sementara imbal hasil atas ekuitas (RoE) juga turun dari 34,6 persen menjadi 28 persen.

Meski demikian, kinerja Adira masih lebih tinggi dari rata-rata RoA dan RoE sektor seperti terlihat dalam Jakarta Finance Index, yakni masing-masing 2,7 persen dan 22,2 persen. Begitu juga jika dilihat dari rasio harga saham terhadap pendapatan (PER) perseroan masih rendah yakni sebesar 6,86 kali jika dibandingkan rata-rata PER Jakarta Finance Index yang mencapai 14 kali.

Reporter: Aria W. Yudhistira

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan