Saham Otomotif Terancam Kebijakan Harga BBM

Penulis:

Editor:

21/5/2013, 11.12 WIB

Kenaikan bahan bakar minyak BBM pada pertengahan tahun ini diperkirakan akan berimbas terhadap saham sektor otomotif

astra-otoparts-industri-mobil.jpg

KATADATA ? Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada pertengahan tahun ini diperkirakan akan berimbas terhadap saham sektor otomotif. Namun dampak dari kenaikan itu diperkirakan sekitar dua bulan.

Penjualan otomotif tahun ini diperkirakan akan tumbuh 10 persen. Melambatnya penjualan ini seiring dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi 2013 yang mulai terasa pada kuartal I/2013. Selain itu, kenaikan uang muka bagi pembelian kendaraan baik roda empat dan roda dua melalui kredit juga memberikan dampak bagi penjualan produk otomotif.

Sejarah membuktikan kenaikan BBM membawa pengaruh terhadap saham otomotif seperti PT Astra Internasional Tbk. Pada kenaikan harga BBM Maret 2005, saham Astra terlihat di bawah kinerja industri (underperformed) 1-2 bulan setelah kebijakan diberlakukan. Sedangkan, ketika harga BBM dinaikkan kembali pada Oktober 2005, saham Astra kembali berada di bawah kinerja industri selama hampir satu tahun lamanya. Apalagi, sepanjang Januari 2005 ? Desember 2006, BI Rate cenderung naik dari 7,4 persen menjadi 12 persen.

Begitupun saat terjadi kenaikan harga BBM pada Mei 2008, kinerja saham Astra juga mengecewakan  selama dua bulan.

Mandiri Sekuritas memandang netral terhadap saham Astra di harga Rp 6.950 dengan target harga 7.900. Tahun ini, PER saham ASII ini sebesar 12,6 kali dan 2014 diperkirakan 11,1 kali. Kinerja Astra kuartal I/2013 juga menurun dengan perolehan laba Rp 4,3 triliun atau turun 7 persen. Laba bersih divisi otomotif, penyumbang laba terbesar kelompok usaha turun hingga 10 persen menjadi Rp 2,2 triliun.

Penurunan laba ini juga dialami oleh emiten otomotif yang lain yaitu, PT Indomobil Sukses Internasional Tbk. Laba emiten berkode IMAS sebesar Rp 142 miliar, turun 39,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Penjualannya turun 4,2 persen pada kuartal I/2013.

Dengan kinerja keuangan triwulan I yang melemah, Trimegah menurunkan target harga menjadi Rp 5.100 ( PER 13 kali dari 16 kali). Trimegah mempertahankan rekomendasi hold untuk meng-counter penurunan 3 persen dari target harga. Trimegah juga menurunkan prediksi laba Indomobil pada 2013 yaitu Rp 850 miliar atau naik hanya 6 persen (year on year).

Berbeda dengan Trimegah, Mandiri Sekuritas menilai saham Indomobil layak beli (buy) menyusul adanya tender offer pasca perubahan kepemilikan saham. Mandiri memasang target harga Rp 6.150 per lembar saham. Mandiri Sekuritas memperkirakan pada 2013, price earning ratio saham Indomobil mencapai 14,1 kali, dengan ROE sebesar 18,4 persen. Taksiran laba bersih tahun ini mencapai Rp 1,033 triliun.

Kepemilikan saham mayoritas Indomobil baru saja beralih, dari PT Cipta Sarana Duta Perkasa kepada Grup Salim. Grup itu kembali mengendalikan Indomobil pasca membeli 1,44 miliar saham Cipta Sarana Duta Perkasa di harga Rp 5.420 per unit atau sekitar Rp 7,8 triliun. Pembelian saham itu melalui perusahaan investasi asal Singapura, Gallant Venture Ltd yang dimiliki Grup Salim sebesar 53,36 persen.

Selama setahun, saham Indomobil telah turun 35,58 persen. Saham tertinggi pernah menyentuh level 8875 pada 29 Mei 2012. Level terendah terjadi pada minggu ini di kisaran level 5.250.

Reporter: Nur Farida Ahniar

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan