Singapura Berjanji Beri Akses Luas Bank Indonesia

Penulis:

Editor:

23/5/2013, 11.12 WIB

Monetary Authority of Singapore MAS berjanji akan memberikan akses lebih luas kepada perbankan Indonesia untuk bisa beroperasi di Singapura

mas
KATADATA
KATADATA

KATADATA ? Monetary Authority of Singapore (MAS) berjanji akan memberikan akses lebih luas kepada perbankan Indonesia untuk bisa beroperasi di Singapura. Pernyataan ini dilontarkan menyusul permintaan Bank Indonesia adanya kesetaraan perlakuan sebagai syarat persetujuan akuisisi DBS terhadap 67,37 persen saham PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Bila kesetaraan itu tidak bisa dipenuhi, maka BI hanya akan menyetujui akusisi Bank Danamon maksimal 40 persen.

Dalam pernyataan di situs resminya, Otoritas moneter Singapura itu menulis akan memberikan akses bank Indonesia menyediakan jasa keuangan wholesales banking dan kegiatan ritel, seperti untuk mahasiswa Indonesia dan pemegang izin kerja di Singapura.

Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings dalam keterangan resmi yang dipublikasikan pada Rabu (22/5), menyebut keputusan BI untuk hanya menyetujui 40 persen akuisi saham Bank Danamon berpotensi menghambat niat bank luar negeri untuk merambah pasar di tanah air. Menurut Fitch, DBS dan investor asing yang ingin berinvestasi di perbankan Indonesia ingin mencari kepemilikan saham pengendali. 

Padahal berdasarkan aturan Basel III, Fitch menilai, kepemilikan saham antara 10-50 persen akan membuat inefisiensi dalam suatu bank. Kurangnya saham pengendali yang efektif akan membuat operasi perbankan DBS di Indonesia lebih sulit mencapai tingkat integrasi yang setara seperti halnya kantor-kantor inti DBS di wilayah ASEAN.

Meski begitu, Indonesia secara keseluruhan dinilai masih merupakan pasar yang menarik untuk perbankan. Batas maksimal kepemilikan saham hingga 40 persen masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan praktik di regional, terlepas dari adanya pengetatanregulasi. Apalagi, Indonesia masih memiliki penetrasi kredit yang rendah jika dibandingkan dengan negara-negara yang bertumbuh cepat, seperti India dan  Cina.

Sumber: Investor Daily

Reporter: Redaksi

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan