Defisit Neraca Perdagangan Semakin Lebar

Penulis:

Editor:

4/6/2013, 10.10 WIB

Indonesia dihantam defisit neraca perdagangan sebesar US 185 miliar setelah pada bulan lalu menikmati surplus hingga US 3049 juta

pelabuhan peti kemas
Agung Samosir|Katadata
KATADATA

KATADATA ? Indonesia kembali dihantam defisit neraca perdagangan sebesar US$ 1,85 miliar setelah pada bulan lalu menikmati surplus hingga US$ 304,9 juta. Defisit neraca perdagangan ini adalah defisit terbesar sepanjang tahun ini dan merupakan defisit neraca perdagangan yang tertinggi kedua setelah Oktober 2012 lalu yang sebesar US$ 1,88 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin mengatakan defisit perdagangan disebabkan oleh adanya peningkatan impor nonmigas pada bulan ini di samping penurunan harga dan juga volume permintaan beberapa komoditas ekspor.

Data BPS mencatat adanya kenaikan nilai impor nonmigas pada April 2013 dibandingkan bulan lalu sebesar 15,75 persen menjadi US$ 12,71 miliar. Adapun, untuk impor sektor migas mengalami penurunan hingga 7,77 persen menjadi US$ 3,60 miliar. Berdasarkan golongan penggunaan barang, impor bahan baku/penolong mengalami kenaikan sebesar 4,44 persen menjadi US$ 47,7 miliar, sedangkan barang modal turun 17,67 persen menjadi US$ 10,3 miliar dan barang konsumsi turun 12 persen menjadi US$3,9 miliar.

Data BPS juga mencatat penurunan nilai ekspor Indonesia hingga 9,11 persen dibandingkan April 2012 menjadi US$ 14,7 miliar. Hal ini disebabkan adanya penurunan ekspor pada sektor migas hingga 18,37 persen menjadi US$ 2,3 miliar. Di lain sisi, ekspor non migas justru mengalami kenaikan hingga 1,74 persen dibandingkan dengan Maret 2013 menjadi US$ 12,3 miliar. Meskipun terjadi pelemahan ekspor, secara volume mengalami peningkatan.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin, Ina Primiana, di harian Bisnis Indonesia (4/6) memprediksi defisit neraca perdagangan Indonesia akan semakin melebar. Pemerintah belum mampu mengatasi permasalahan perdagangan. Permasalahan itu antara lain ekspor yang hanya terfokus pada barang mentah, pengiriman yang terbatas pada pasar tradisional, serta ketidakmampuan mencukupi permintaan dalam negeri dari produk lokal. Dia menambahkan defisit ini juga dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menyebabkan nilai impor bertambah besar.

Deputi Kepala BPS Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Sasmito Hadi Wibowo, mengatakan defisit neraca dagang tak mudah berbalik menjadi surplus. Pasalnya, harga komoditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia tak kunjung naik. Permintaan di pasar global juga menyusut. Agar defisit dagang tak menyebabkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, pemerintah harus segera menaikkan harga jual BBM bersubsidi. Dengan begitu, impor BBM turun. Turunnya impor BBM bisa jadi solusi pendek menutup defisit perdagangan, sekaligus mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Reporter: Redaksi

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan