Redam Gejolak Rupiah, BI Naikkan Suku Bunga

Penulis:

Editor:

12/6/2013, 10.10 WIB

Untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah Bank Indonesia menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 425 persen

Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah, Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan suku bunga deposit facility atau Fasilitas Simpanan Bank Indonesia sebesar 25 basis poin menjadi 4,25 persen berlaku mulai 12 Juni 2013.

"Kami siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan," ujar Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dalam siaran pers Selasa malam, 11 Juni 2013. Selain menaikkan suku bunga Fasbi, BI juga berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan valas dan rupiah di pasar. Langkah ini dilakukan sebagai upaya preemptive dalam menjaga stabilitas moneter.

Pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini memang semakin liar. Kurs rupiah kian melemah baik di pasar spot maupun pasar forward. Mengacu pada data Bloomberg, pada Senin, 10 Juni 2013, nilai tukar rupiah untuk pemesanan 12 bulan ke depan sudah melemah 7,01 persen menjadi Rp 10.910 per dolar AS.Ini adalah pelemahan tertinggi sejak akhir 2009. Nilai kurs rupiah tersebut lebih tinggi dari nilai rupiah di spot pasar uang yang sudah berada di level Rp 10.087 per dolar.

Sejatinya, untuk meredam pelemahan rupiah yang terus berlanjut, BI sudah mengambil langkah-langkah. Misalnya, pada triwulan I 2013, BI memutuskan untuk mengambil alih penyediaan sebagian besar kebutuhan valas untuk pembayaran impor minyak dari perbankan domestik. Kebijakan ini berhasil mengurangi permintaan di pasar valas dan meredam tekanan depresiasi rupiah sehingga memberikan ruang kepada perbankan domestik untuk menambah simpanan valas mereka.

Selain sejumlah langkah tersebut, BI diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga Fasbi, juga suku bunga acuan atau BI rate dalam waktu yang akan datang. "Kami memperkirakan BI sedikitnya masih akan menaikkan suku bunga dua kali 25 basis poin pada Juli dan Agustus, diikuti dengan mengerek BI rate setelah harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dinaikkan serta memperketat makro prudensial."

Reporter: Heri Susanto

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan