DBS Tinjau Ulang Akuisisi Danamon

Penulis:

Editor:

13/6/2013, 17.11 WIB

Manajemen DBS Group Holding berencana meninjau ulang rencana mengakuisisi Bank Danamon jika hanya diperbolehkan mengakuisisi 40 persen saham

bank dbs
KATADATA
KATADATA

KATADATA ? Manajemen DBS Group Holding berencana meninjau ulang rencana mengakuisisi Bank Danamon jika hanya diperbolehkan mengakuisisi 40 persen saham. Chairman DBS Group, Peter Seah, mengatakan jika hanya mengambil 40 persen saham, tidak menguntungkan secara ekonomi. Argumennya, DBS tidak bisa mengintegrasikan unit usahanya di Indonesia. Dalam proposal yang disampaikan ke BI, DBS akan melakukan akuisisi Damanon secara tidak langsung. DBS berencana membeli 100 persen saham Fullerton Finansial Holding (FFH) dari Temasek Holding. FFH merupakan pemegang 100 persen saham Asia Finansial Indonesia, pemilik 67,37 persen saham Danamon.

Namun proposal ini tidak dapat dieksekusi karena bertentangan dengan aturan kepemilikan bank umum yang muncul pada awal tahun 2013. Agar transaksi terwujud, BI harus melonggarkan aturannya. Maka, BI mengajukan beberapa syarat pada Monetary Authority of Singapore (MAS). Di antaranya, memberikan kesempatan tiga bank BUMN agar bebas berekspansi di Singapura dan melakukan pengawasan lintas negara. Gubernur BI, Agus Martowardojo mengatakan kepada Kontan (13/6), dalam transaksi ini BI akan tetap mengusung asas resiprokal, jika tidak memenuhi silahkan ikuti aturan yang ada.

Sebenarnya, dalam aturan kepemilikan bank umum, BI membolehkan investor memiliki saham sebuah bank lebih dari 40 persen. Namun, pengambilan ini harus dilakukan secara bertahap tidak boleh secara langsung. Pada tahap awal, investor bank mengambil 40 persen. Dalam lima tahun, investor bank harus bisa mempertahankan tingkat kesehatan dan tata kelola minimal level 2 dalam tiga periode berturut - turut. Jika memenuhi aturan tersebut, investor bisa mengajukan izin peningkatan kepemilikan ke BI. Tetapi tidak sembarang investor mendapat keleluasaan ini. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Yakni, mendapat rekomendasi dari bank sentral negara asal dan memiliki komitmen terhadap ekonomi Indonesia.

Reporter: Redaksi

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan