Kwik: Terlalu Murah, Harga BBM Harus Dinaikkan

Penulis:

Editor:

21/6/2013, 11.11 WIB

Mantan Menteri Koordinator Perekonomian Kwik Kian Gie mendukung kenaikan harga BBMkarenaharga sekarang terlampau murah

Kwik Kian Gie
metrotvnews.com
Kwik Kian Gie

KATADATA ? Mantan Menteri Koordinator Perekonomian Kwik Kian Gie mendukung kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000-6.500 per liter. Alasannya, harga yang berlaku sekarang sudah terlampau murah.

?Harga BBM sebesar Rp 4.500 terlalu murah. Masak BBM lebih murah dari harga satu botol aqua atau satu botol bir,? kata Kwik saat dihubungi KATADATA, Jumat, 21 Juni 2013. Menurut dia, harga BBM harus dinaikkan ke level yang wajar, yakni di kisaran Rp 6000-6.500 per liter.

Ada tiga faktor yang menjadi pertimbangan untuk menaikkan harga BBM. Ini berlandaskan pada Pasal 33, Undang-Undang Dasar 1945 yang menekankan bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

"Saya menyerapi betul isi Pasal 33 ini karena saya bersyukur dulu sempat bertemu dan berdiskusi dengan Bung Hatta, proklamator dan pendiri Republik Indonesia," kata Kwik.

Berdasarkan Pasal 33 tersebut, ketiga faktor yang dimaksud adalah, Pertama, kepantasan atau kepatutan. Kedua, daya beli masyarakat. Ketiga, nilai strategis. Dari sisi kepantasan, harga BBM lebih murah dibandingkan dengan harga Aqua termasuk tidak pantas. Kedua, dari segi daya beli masyarakat, harga Rp 6.000-6.500 per liter masih tergolong wajar. "Saya yakin harga itu masih bisa dijangkau."

Jika dilihat dari faktor strategis, BBM merupakan barang sangat strategis yang dibutuhkan dan dipergunakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Karena itu, harganya tidak bisa dipatok sesuai dengan harga internasional, yakni Rp 9.000-10.000 per liter.

Pernyataan Kwik tersebut cukup mengejutkan lantaran selama ini kerap dianggap berseberangan dengan pemerintah terkait kebijakan BBM. Apalagi, pernyataan Kwik kerap digunakan oleh para kelompok anti kenaikan harga BBM untuk menyuarakan penolakan terhadap kebijakan pemerintah.

Perbedaan Kwik dan pemerintah, sejatinya lebih disebabkan oleh perbedaan cara pandang terkait masalah ?BBM bersubsidi.? Sejak 15 tahun lalu hingga sekarang, Kwik tetap berpandangan subsidi BBM tidak ada karena pendapatan pemerintah dari sektor migas dikurangi dengan pengeluaran untuk subsidi migas, hasilnya masih surplus. Sebaliknya, pemerintah dan kalangan ekonom berpandangan pemerintah telah memberikan subsidi terhadap BBM lantaran harga domestik jauh lebih murah dari internasional.

"Jadi, kalau saya jadi pemerintah atau menko perekonomian, saya akan bilang, hai rakyatku, memang benar ada surplus dari sektor minyak. Namun, harga premium Rp 4.500 itu sudah terlalu murah, itu harus dinaikkan, agar kita memiliki surplus lebih tinggi lagi untuk membiayai pembangunan lainnya," kata Kwik.

Menurut dia, dirinya tidak akan bilang seperti kelompok ekonom neoliberal yang menyebutkan bahwa dengan harga Rp 4.500, subsidi BBM akan jebol. Sebab, faktanya, pendapatan negara dari sektor migas bila dikurangi pengeluaran untuk migas, hasilnya masih surplus.

Pemerintah hari ini berniat mengumumkan kenaikan harga BBM. Premium akan dinaikkan dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.500 per liter. Sedangkan, solar akan dinaikkan dari Rp 4.500 menjadi Rp 5.500 per liter.

Reporter: Heri Susanto

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan